RI: Para manusia perahu korban janji manis sindikat
Kamis, 17 April 2014 - 14:09 WIB
RI: Para manusia perahu korban janji manis sindikat
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Indonesia telah menganalisis berbagai masalah perihal para pencari suaka atau manusia perahu yang salah satunya mencari perlindungan di Indonesia. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Mulltirateral Kementerian Luar Negeri (Kemlu), H.E Hasaln Kleib, di sela-sela persiapan penyelenggaraan konferensi dunia untuk mengatasi para pencari suaka yang akan digelar di Indonesia.
Menurutnya, keberadaan para pencari suaka tidak lepas dari ulah para sindikat penyelundupan manusia. “Sindikat penyelundupan manusia ini sudah berskala internasional, mereka memiliki kontak di negara transit hingga negara tujuan penyelendupan,” kata Kleib saat jumpa pers Kamis (17/4/2014) di kompleks Kementerian Luar Negeri Indonesia, Jakarta.
Kleib mengatakan, untuk menanggulangi masalah manusia perahu tidak bisa dilakukan oleh negara tujuan, negara transit atau hanya negara asal para manusia perahu saja. Tapi, setiap negara harus ikut membantu mencegah dan menangani para pencari suaka.
"Para manusia perahu ini pada awalnya diberikan janji-jani manis bahwa mereka akan mendapatkan hidup layak bila pergi ke negara tertentu oleh sindikat penyelundup manusia. Mayoritas mereka yang datang ke Indonesia datang dengan paspor resmi, tapi pada saat sudah di Indonesia mereka dibawa secara diam-diam pada malam hari dan diselundupkan ke Australia,” imbuh Kleib.
“Mereka awalnya bukanlah korban, karena merekalah yang meminta untuk diselundupkan. Namum ketika terjadi bencana, mereka akhirnya menjadi korban dari sindikat tersebut,” lanjut Kleib.
Manusia perahu adalah istilah bagi para imigran ilegal yang diselundupkan menggunakan perahu. Mereka bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan di atas perahu. Di Indonesia sendiri banyak dari mereka yang akhirnya ditangkap dan dikembalikan ke negara asal masing-masing.
Menurutnya, keberadaan para pencari suaka tidak lepas dari ulah para sindikat penyelundupan manusia. “Sindikat penyelundupan manusia ini sudah berskala internasional, mereka memiliki kontak di negara transit hingga negara tujuan penyelendupan,” kata Kleib saat jumpa pers Kamis (17/4/2014) di kompleks Kementerian Luar Negeri Indonesia, Jakarta.
Kleib mengatakan, untuk menanggulangi masalah manusia perahu tidak bisa dilakukan oleh negara tujuan, negara transit atau hanya negara asal para manusia perahu saja. Tapi, setiap negara harus ikut membantu mencegah dan menangani para pencari suaka.
"Para manusia perahu ini pada awalnya diberikan janji-jani manis bahwa mereka akan mendapatkan hidup layak bila pergi ke negara tertentu oleh sindikat penyelundup manusia. Mayoritas mereka yang datang ke Indonesia datang dengan paspor resmi, tapi pada saat sudah di Indonesia mereka dibawa secara diam-diam pada malam hari dan diselundupkan ke Australia,” imbuh Kleib.
“Mereka awalnya bukanlah korban, karena merekalah yang meminta untuk diselundupkan. Namum ketika terjadi bencana, mereka akhirnya menjadi korban dari sindikat tersebut,” lanjut Kleib.
Manusia perahu adalah istilah bagi para imigran ilegal yang diselundupkan menggunakan perahu. Mereka bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan di atas perahu. Di Indonesia sendiri banyak dari mereka yang akhirnya ditangkap dan dikembalikan ke negara asal masing-masing.
(esn)