Sebut semua penumpang MH370 tewas, PM Malaysia gegabah?
Selasa, 25 Maret 2014 - 10:05 WIB
Sebut semua penumpang MH370 tewas, PM Malaysia gegabah?
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, semalam (24/3/2014) menyampaikan informasi, bahwa pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 jatuh di Samudera Hindia selatan. Najib, juga memastikan semua orang yang ada dalam pesawat itu tidak ada yang selamat.
Keputusan Najib itu, dianggap gegabah, karena terlalu dini menyimpulkan tanpa ada dasar yang kuat. Stephen Wood, CEO of All Source Analysis, sebuah perusahaan analitik satelit, mengatakan, para penyidik telah mempersempit daerah secara substansial.”Tapi, itu masih daerah besar, dan mereka harusnya mencari,” kritiknya, seperti dikutip Reuters Selasa (25/3/2014) .
Menurut Wood, insiden pesawat MH370 itu berpotensi untuk mengkaji ulang aturan penerbangan. Terutama yang berkaitan dengan peralatan komunikasi dan kemampuan untuk mematikan transponder pesawat. Seperti diketahui, pesawat MH370 lenyap misterius, karena diduga ada yang sengaja mematikan transponder sehingga komunikasi dengan petugas lalu lintas udara terputus.
Pengumuman mengejutkan dari Najib muncul justru di saat sejumlah satelit dari berbagai negara menemukan puing-puing mencurigakan yang diduga pesawat MH370. Satelit Australia, China dan Perancis setidaknya telah menemukan beberapa puing mencurigakan. Meski tak satu pun belum terbukti terkait pesawat MAS MH370.
Dasar yang digunakan Najib untuk memutuskan tidak ada satu pun penumpang MH370 yang selamat adalah dari data perusahaan satelit Inmarsat Inggris. ”Berdasarkan analisis baru, Inmarsat dan Air Accidents Investigation Branch (AAIB) telah menyimpulkan bahwa MAS MH370 terbang sepanjang koridor selatan dan posisi terakhirnya berada di tengah Samudera Hindia sebelah barat Perth,” ujar Najib.
”Ini adalah lokasi terpencil, jauh dari lokasi pendaratan. Oleh karena itu dengan sedih dan menyesal bahwa saya harus memberitahu Anda bahwa menurut data baru ini, penerbangan MH370 berakhir di Samudera Hindia selatan,” imbuh dia.
Keputusan Najib itu, dianggap gegabah, karena terlalu dini menyimpulkan tanpa ada dasar yang kuat. Stephen Wood, CEO of All Source Analysis, sebuah perusahaan analitik satelit, mengatakan, para penyidik telah mempersempit daerah secara substansial.”Tapi, itu masih daerah besar, dan mereka harusnya mencari,” kritiknya, seperti dikutip Reuters Selasa (25/3/2014) .
Menurut Wood, insiden pesawat MH370 itu berpotensi untuk mengkaji ulang aturan penerbangan. Terutama yang berkaitan dengan peralatan komunikasi dan kemampuan untuk mematikan transponder pesawat. Seperti diketahui, pesawat MH370 lenyap misterius, karena diduga ada yang sengaja mematikan transponder sehingga komunikasi dengan petugas lalu lintas udara terputus.
Pengumuman mengejutkan dari Najib muncul justru di saat sejumlah satelit dari berbagai negara menemukan puing-puing mencurigakan yang diduga pesawat MH370. Satelit Australia, China dan Perancis setidaknya telah menemukan beberapa puing mencurigakan. Meski tak satu pun belum terbukti terkait pesawat MAS MH370.
Dasar yang digunakan Najib untuk memutuskan tidak ada satu pun penumpang MH370 yang selamat adalah dari data perusahaan satelit Inmarsat Inggris. ”Berdasarkan analisis baru, Inmarsat dan Air Accidents Investigation Branch (AAIB) telah menyimpulkan bahwa MAS MH370 terbang sepanjang koridor selatan dan posisi terakhirnya berada di tengah Samudera Hindia sebelah barat Perth,” ujar Najib.
”Ini adalah lokasi terpencil, jauh dari lokasi pendaratan. Oleh karena itu dengan sedih dan menyesal bahwa saya harus memberitahu Anda bahwa menurut data baru ini, penerbangan MH370 berakhir di Samudera Hindia selatan,” imbuh dia.
(mas)