Negosiasi nuklir gagal, AS & Iran saling menyalahkan
Selasa, 12 November 2013 - 11:55 WIB
Negosiasi nuklir gagal, AS & Iran saling menyalahkan
A
A
A
Sindonews.com – Iran dan Amerika Serikat saling menyalahkan atas kegagalan untuk mencapai kesepakatan dalam negosiasi nuklir Teheran selama tiga hari.
Iran berpendapat, pengayaan uranium adalah hak setiap bangsa, dan itu hanya dilakukan Teheran untuk kepentingan publik. Sedangkan negara-negara Barat, termasuk AS tetap menginginkan Iran menghentikan pengayaan uranium, karena dicurigai untuk keperluan pembuatan senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengecam pernyataan Menlu AS, John Kerry yang menyalahkan Iran karena tidak tercapainya kesepakatan itu. ”Laporan yang saling bertentangan merugikan kredibilitas, dan merusak kepercayaan. Tujuan dialog (negosiasi) adalah untuk meredam krisis kepercayaan,” kata Zarif dalam sebuah talk show di televisi Iran, seperti dikutip al-Jazeera, Selasa (12/11/2013).
Menurut Zarif, "kemajuan'' sebenarnya tercapai dalam negosiasi selama tiga hari itu. Tapi, lanjut dia, sebagian besar waktu dihabiskan dengan negara 5P+1 (AS, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman). ”Untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka sendiri,” katanya.
Sebelumnya, Kerry mengatakan, bahwa delegasi Iran telah mundur untuk mencapai kesepakatan yang lebih maju. Yakni, dalam meredam kekhawatiran Barat, yang mencurigai Teheran mampu mengembangkan senjata nuklir dalam tempo satu hari.
”Ada kesepakatan bersama, namun Iran tidak bisa menerimanya,” ujar Kerry kemarin, saat berkunjung ke Abu Dhabi. ”Delegasi Perancis sudah menandatangai kesepakatan itu, kami juga menandatanganinya,” lanjut dia yang mengacu pada sikap Iran yang menolak menandatangai kesepakatan yang dimaksud.
Iran sendiri sejak awal berkomitmen, negosiasi harus berakhir dengan pencabutan embargo ekonomi yang dilakukan negara-negara Barat terhadap Teheran. ”Ini bukan permainan untuk menyelesaikan masalah dengan kesepakatan,” imbuh Kerry.
Iran berpendapat, pengayaan uranium adalah hak setiap bangsa, dan itu hanya dilakukan Teheran untuk kepentingan publik. Sedangkan negara-negara Barat, termasuk AS tetap menginginkan Iran menghentikan pengayaan uranium, karena dicurigai untuk keperluan pembuatan senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengecam pernyataan Menlu AS, John Kerry yang menyalahkan Iran karena tidak tercapainya kesepakatan itu. ”Laporan yang saling bertentangan merugikan kredibilitas, dan merusak kepercayaan. Tujuan dialog (negosiasi) adalah untuk meredam krisis kepercayaan,” kata Zarif dalam sebuah talk show di televisi Iran, seperti dikutip al-Jazeera, Selasa (12/11/2013).
Menurut Zarif, "kemajuan'' sebenarnya tercapai dalam negosiasi selama tiga hari itu. Tapi, lanjut dia, sebagian besar waktu dihabiskan dengan negara 5P+1 (AS, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman). ”Untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka sendiri,” katanya.
Sebelumnya, Kerry mengatakan, bahwa delegasi Iran telah mundur untuk mencapai kesepakatan yang lebih maju. Yakni, dalam meredam kekhawatiran Barat, yang mencurigai Teheran mampu mengembangkan senjata nuklir dalam tempo satu hari.
”Ada kesepakatan bersama, namun Iran tidak bisa menerimanya,” ujar Kerry kemarin, saat berkunjung ke Abu Dhabi. ”Delegasi Perancis sudah menandatangai kesepakatan itu, kami juga menandatanganinya,” lanjut dia yang mengacu pada sikap Iran yang menolak menandatangai kesepakatan yang dimaksud.
Iran sendiri sejak awal berkomitmen, negosiasi harus berakhir dengan pencabutan embargo ekonomi yang dilakukan negara-negara Barat terhadap Teheran. ”Ini bukan permainan untuk menyelesaikan masalah dengan kesepakatan,” imbuh Kerry.
(mas)