Iran: Tidak ada pertemuan dengan pejabat AS di New York
Rabu, 18 September 2013 - 16:05 WIB
Iran: Tidak ada pertemuan dengan pejabat AS di New York
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Iran membantah laporan sejumlah media, bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani telah menjadwalkan untuk mengadakan pertemuan dengan pejabat Amerika Serikat (AS) di sela-sela pertemuan Majelis Umum PBB di New York pada 25 September mendatang.
"Dalam agenda perjalanan Presiden Rouhani ke New York, tidak ada rencana untuk menggelar pertemuan dengan pejabat AS," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marziyeh Afkham seperti dilansir FARS, Rabu (18/9/2013).
Namun, Afkham mengatakan, jika kecenderungan pembicaraan antara Iran dan kelompok G5+1 (anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman) mengarah pada titik yang memang memerlukan digelarnya sebuah pertemuan bersama AS, maka akan dilakukan dalam kerangka pembicaraan G5+1.
Seperti diketahui, setelah Presiden AS Barack Obama menulis surat kepada Rouhani, sejumlah media berspekulasi bahwa kedua pihak telah mengatur pertemuan di sela-sela sidang Majelis Umum PBB. "Surat Obama telah diterima, tapi itu bukan membahas tentang Suriah, melainkan ucapan selamat kepada Presiden Rouhani," ujarnya..
"Sayangnya, dalam surat tersebut, Pemerintah AS masih berbicara dengan bahasa ancaman. Sementara untuk menggelar pembicaraan dengan orang harus menggunakan bahsa yang menghargai, desakan yang logis, dan posisi yang tak nyata, yang tidak akan menghasilkan apapun," terang Afkham.
"Dalam agenda perjalanan Presiden Rouhani ke New York, tidak ada rencana untuk menggelar pertemuan dengan pejabat AS," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marziyeh Afkham seperti dilansir FARS, Rabu (18/9/2013).
Namun, Afkham mengatakan, jika kecenderungan pembicaraan antara Iran dan kelompok G5+1 (anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman) mengarah pada titik yang memang memerlukan digelarnya sebuah pertemuan bersama AS, maka akan dilakukan dalam kerangka pembicaraan G5+1.
Seperti diketahui, setelah Presiden AS Barack Obama menulis surat kepada Rouhani, sejumlah media berspekulasi bahwa kedua pihak telah mengatur pertemuan di sela-sela sidang Majelis Umum PBB. "Surat Obama telah diterima, tapi itu bukan membahas tentang Suriah, melainkan ucapan selamat kepada Presiden Rouhani," ujarnya..
"Sayangnya, dalam surat tersebut, Pemerintah AS masih berbicara dengan bahasa ancaman. Sementara untuk menggelar pembicaraan dengan orang harus menggunakan bahsa yang menghargai, desakan yang logis, dan posisi yang tak nyata, yang tidak akan menghasilkan apapun," terang Afkham.
(esn)