Rusia desak PBB kirim kembali penyidik senjata kimia ke Suriah
Rabu, 18 September 2013 - 13:43 WIB
Rusia desak PBB kirim kembali penyidik senjata kimia ke Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Utusan Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, menyerukan agar inspektur senjata kimia kembali dikirim ke Suriah untuk melakukan penyelidikan tambahan atas dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah, Rabu (18/9/2013).
"Selain serangan yang terjadi di Ghouta, inspektur senjata kimia PBB yang dipimpin ahli kimia dari Swedia, Ake Sellstrom, harus menyelidiki kasus dugaan penggunaan senjata kimia lain. Termasuk insiden serangan 19 Maret di dekat Aleppo, serta insiden keracunan pasukan Pemerintah Suriah pada 22, 24, dan 25 Agustus lalu," ungkap Churkin.
"Kami berharap bahwa implementasi penuh dari mandat misi Sellstrom akan memberikan gambaran objektif tentang peristiwa di Suriah," lanjut Churkin.
Seperti diketahui, inspektur senjata kimia PBB tidak memiliki mandat untuk menentukan siapa pihak yang telah meluncurkan serangan di Ghouta. Namun, Amerika Serikat dan beberapa sekutunya telah menuding rezim Presiden Suriah Bashar Assad dalang di balik serangan tersebut.
Menanggapi tudingan tersebut, Suriah dan Rusia menyebut serangan kimia pada 21 Agustus lalu yang telah menewaskan ribuan orang sebagai langkah provokasi yang dilancarkan pemberontak anti-Assad.
Awal pekan ini, Ki-moon mengajukan laporan sebanyak 38 halaman kepada Dewan Keamanan PBB. Isi laporan itu menyimpulkan serangan beberapa roket dengan gas sarin telah digunakan dalam serangan Agustus lalu.
"Atas dasar bukti yang diperoleh selama penyelidikan insiden Ghouta, kesimpulannya adalah, bahwa senjata kimia telah digunakan dalam konflik yang berkepanjangan antara pihak-pihak di Suriah. Senjata kimia itu juga digunakan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, dalam skala relatif besar," ungkap Ki-moon.
"Selain serangan yang terjadi di Ghouta, inspektur senjata kimia PBB yang dipimpin ahli kimia dari Swedia, Ake Sellstrom, harus menyelidiki kasus dugaan penggunaan senjata kimia lain. Termasuk insiden serangan 19 Maret di dekat Aleppo, serta insiden keracunan pasukan Pemerintah Suriah pada 22, 24, dan 25 Agustus lalu," ungkap Churkin.
"Kami berharap bahwa implementasi penuh dari mandat misi Sellstrom akan memberikan gambaran objektif tentang peristiwa di Suriah," lanjut Churkin.
Seperti diketahui, inspektur senjata kimia PBB tidak memiliki mandat untuk menentukan siapa pihak yang telah meluncurkan serangan di Ghouta. Namun, Amerika Serikat dan beberapa sekutunya telah menuding rezim Presiden Suriah Bashar Assad dalang di balik serangan tersebut.
Menanggapi tudingan tersebut, Suriah dan Rusia menyebut serangan kimia pada 21 Agustus lalu yang telah menewaskan ribuan orang sebagai langkah provokasi yang dilancarkan pemberontak anti-Assad.
Awal pekan ini, Ki-moon mengajukan laporan sebanyak 38 halaman kepada Dewan Keamanan PBB. Isi laporan itu menyimpulkan serangan beberapa roket dengan gas sarin telah digunakan dalam serangan Agustus lalu.
"Atas dasar bukti yang diperoleh selama penyelidikan insiden Ghouta, kesimpulannya adalah, bahwa senjata kimia telah digunakan dalam konflik yang berkepanjangan antara pihak-pihak di Suriah. Senjata kimia itu juga digunakan terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, dalam skala relatif besar," ungkap Ki-moon.
(esn)