Ini desakan Menlu RI pada DK PBB untuk Suriah & Mesir
Jum'at, 23 Agustus 2013 - 18:52 WIB
Ini desakan Menlu RI pada DK PBB untuk Suriah & Mesir
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Marty M. Natalegawa, membahas konflik yang terjadi di Suriah dan Mesir saat bertemu dengan Presiden DK PBB, María Cristina Perceval. Pembahasan itu berlangsung di markas besar PBB di New York, AS, kemarin.
Ada tiga hal yang mendapat sorotan dalam konflik di Suriah. Yakni, dugaan penggunaan senjata kimia, kesulitan dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan tantangan untuk mendorong perundingan damai di Konferensi Jenewa II. Dia mendesak DK PBB untuk mencari cara lain agar konflik di Suriah bisa selesai lewat perundingan damai.
”DK PBB harus mencari opsi-opsi lain agar perundingan damai Suriah segera digelar, termasuk dengan pendekatan yang sifatnya bertahap untuk menciptakan rasa saling percaya di antara pihak yang bertikai,” kata Marty, dalam rilisnya kepada Sindonews, Jumat (23/8/2013).
Selain membahas konflik Suriah, pertemuan Marty dengan Presiden DK PBB itu juga membahas krisis politik Mesir. Marty menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam terhadap tindak kekerasan yang telah mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka di Mesir, pasca-penggulingan Presiden Mohamed Morsi. “Jika tidak dihentikan, terdapat potensi eskalasi dan korban jiwa yang lebih besar lagi,” imbuh Marty.
Menlu menegaskan, kekerasan tidak pernah akan menyelesaikan permasalahan. ”Diperlukan sikap yang mengedepankan kepentingan bangsa dan rakyat Mesir untuk mencari solusi yang bersifat win-win,” ucap Marty.
Ada tiga hal yang mendapat sorotan dalam konflik di Suriah. Yakni, dugaan penggunaan senjata kimia, kesulitan dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan tantangan untuk mendorong perundingan damai di Konferensi Jenewa II. Dia mendesak DK PBB untuk mencari cara lain agar konflik di Suriah bisa selesai lewat perundingan damai.
”DK PBB harus mencari opsi-opsi lain agar perundingan damai Suriah segera digelar, termasuk dengan pendekatan yang sifatnya bertahap untuk menciptakan rasa saling percaya di antara pihak yang bertikai,” kata Marty, dalam rilisnya kepada Sindonews, Jumat (23/8/2013).
Selain membahas konflik Suriah, pertemuan Marty dengan Presiden DK PBB itu juga membahas krisis politik Mesir. Marty menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam terhadap tindak kekerasan yang telah mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka di Mesir, pasca-penggulingan Presiden Mohamed Morsi. “Jika tidak dihentikan, terdapat potensi eskalasi dan korban jiwa yang lebih besar lagi,” imbuh Marty.
Menlu menegaskan, kekerasan tidak pernah akan menyelesaikan permasalahan. ”Diperlukan sikap yang mengedepankan kepentingan bangsa dan rakyat Mesir untuk mencari solusi yang bersifat win-win,” ucap Marty.
(esn)