Stiker makanan halal di Australia ini picu kontroversi
Kamis, 08 Agustus 2013 - 17:33 WIB
Stiker makanan halal di Australia ini picu kontroversi
A
A
A
Sindonews.com – Politsi negara bagian Queensland, Stephanie Banister, 27, sedang menghadapi tuduhan kriminal. Ia diduga menempelkan stiker anti-Muslim, pada produk makanan Nestle di supermarket.
”Makanan Halal dana terorisme,” bunyi stiker yang ditempelkan pada produk Nestle, seperti dikutip news.com.au, Kamis (8/8/2013). Stephanie Banister yang diduga sebagai penempel stiker itu, tidak mau ambil pusing, meski stiker itu memicu kontroversi besar.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Channel Seven, yang disiarkan semalam, Stephanie Banister, mengaku semua terjadi karena kurangnya pengetahuan.
”Saya tidak menentang Islam sebagai sebuah negara, tapi saya merasa bahwa hukum mereka tidak boleh diterima di sini, di Australia,” katanya. Menurutnya, masyarakat tampaknya tidak menyadari fakta, bahwa Islam adalah agama, bukan negara.
”Kurang dari dua persen penduduk Australia mengikuti aturan halal dan haram,” ujarnya saat berdebat tentang makanan halal. Ia pun mengarahkan polemik makanan halal-haram pada aturan agama lain, seperi Yahudi dan Kristen. ”Orang-orang Yahudi tidak menganut aturan haram, mereka memiliki agama mereka sendiri yang mengikuti Yesus Kristus,” ucapnya.
Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum Australia belum memutuskan, apakah perempuan itu bisa mengikuti Pemilu September 2013 nanti, setelah kasus itu muncul. Namun, politisi itu diisyaratkan akan dicoret jika terbukti bersalah dan menjalani hukuman penjara karena kasus stiker kontroversi tersebut.
”Makanan Halal dana terorisme,” bunyi stiker yang ditempelkan pada produk Nestle, seperti dikutip news.com.au, Kamis (8/8/2013). Stephanie Banister yang diduga sebagai penempel stiker itu, tidak mau ambil pusing, meski stiker itu memicu kontroversi besar.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Channel Seven, yang disiarkan semalam, Stephanie Banister, mengaku semua terjadi karena kurangnya pengetahuan.
”Saya tidak menentang Islam sebagai sebuah negara, tapi saya merasa bahwa hukum mereka tidak boleh diterima di sini, di Australia,” katanya. Menurutnya, masyarakat tampaknya tidak menyadari fakta, bahwa Islam adalah agama, bukan negara.
”Kurang dari dua persen penduduk Australia mengikuti aturan halal dan haram,” ujarnya saat berdebat tentang makanan halal. Ia pun mengarahkan polemik makanan halal-haram pada aturan agama lain, seperi Yahudi dan Kristen. ”Orang-orang Yahudi tidak menganut aturan haram, mereka memiliki agama mereka sendiri yang mengikuti Yesus Kristus,” ucapnya.
Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum Australia belum memutuskan, apakah perempuan itu bisa mengikuti Pemilu September 2013 nanti, setelah kasus itu muncul. Namun, politisi itu diisyaratkan akan dicoret jika terbukti bersalah dan menjalani hukuman penjara karena kasus stiker kontroversi tersebut.
(esn)