Putra Morsi: Ayah saya pemimpin sah di Mesir
Jum'at, 12 Juli 2013 - 11:51 WIB
Putra Morsi: Ayah saya pemimpin sah di Mesir
A
A
A
Sindonews.com – Putra Mohamed Morsi, Osama Morsi, angkat bicara tentang krisis politik di Mesir yang berujung pada pelengseran ayahnya dari kursi presiden oleh militer Mesir. Osama percaya, revolusi akan kembali terjadi di Mesir dan membawa ayahnya untuk memimpin kembali negeri itu.
Osama mengatakan, ayahnya adalah pemimpin yang sah di Mesir. ”Apa yang saya lihat dalam beberapa hari mendatang? Bahwa revolusi akan berhasil dan pemimpin yang sah akan kembali (Morsi),” katanya, dikutip CNN, Jumat (12/7/2013). ”Rakyat Mesir tidak akan pernah lagi takut dengan teror dan penahanan.”
Osama berpendapat, pemecatan paksa ayahnya dari kursi presiden Mesir oleh militer adalah kudeta. ”Ini adalah kudeta revolusi, kudeta terhadap demokrasi, kudeta pada konstitusi dan kehendak rakyat,” ujarnya.
Meskipun kemarahan para pendukung Morsi terus berlangsung, tapi pemerintahan yang bar uterus mengisi formasi kabinetnya. Kantor berita al-Ahram melaporkan, Perdana Menteri Mesir, Hazem el-Beblawi, sudah mengisi 70 persen formasi menteri.
Osama tidak setuju dengan klaim protes nasional dari jutaan rakyat Mesir yang dimulai 30 Juni 2013 lalu sebagai revolusi. ”30 Juni itu bukan revolusi! Dan sejarah tidak akan mencatatnya sebagai sebuah revolusi. Dan tidak satu pun, termasuk Amerika berhak menyebutnya sebagai revolusi. Yang terjadi adalah kekuasaan militer. Tidak ada revolusi dengan membatalkan hasil Pemilu.”
Osama mengatakan, ayahnya adalah pemimpin yang sah di Mesir. ”Apa yang saya lihat dalam beberapa hari mendatang? Bahwa revolusi akan berhasil dan pemimpin yang sah akan kembali (Morsi),” katanya, dikutip CNN, Jumat (12/7/2013). ”Rakyat Mesir tidak akan pernah lagi takut dengan teror dan penahanan.”
Osama berpendapat, pemecatan paksa ayahnya dari kursi presiden Mesir oleh militer adalah kudeta. ”Ini adalah kudeta revolusi, kudeta terhadap demokrasi, kudeta pada konstitusi dan kehendak rakyat,” ujarnya.
Meskipun kemarahan para pendukung Morsi terus berlangsung, tapi pemerintahan yang bar uterus mengisi formasi kabinetnya. Kantor berita al-Ahram melaporkan, Perdana Menteri Mesir, Hazem el-Beblawi, sudah mengisi 70 persen formasi menteri.
Osama tidak setuju dengan klaim protes nasional dari jutaan rakyat Mesir yang dimulai 30 Juni 2013 lalu sebagai revolusi. ”30 Juni itu bukan revolusi! Dan sejarah tidak akan mencatatnya sebagai sebuah revolusi. Dan tidak satu pun, termasuk Amerika berhak menyebutnya sebagai revolusi. Yang terjadi adalah kekuasaan militer. Tidak ada revolusi dengan membatalkan hasil Pemilu.”
(esn)