Korut akan lakukan pembicaraan nuklir di Moskow
Sabtu, 29 Juni 2013 - 18:33 WIB
Korut akan lakukan pembicaraan nuklir di Moskow
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Negosiator Nuklir Korea Utara (Korut) akan bertemu dengan para pejabat senior Rusia di Moskow, pada Minggu (30/6/2013). Media Pemerintah Rusia melaporkan, pembicaraan itu untuk mendorong agar Pyonyang bisa bergabung kembali dalam perundingan untuk mengakhiri kontroversi program nuklirnya yang berlarut-larut.
Wakil Menteri Pertama Luar Negeri Korut Kim Kye-gwan, akan bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Vladimir Titov dan Igor Morgulov. ”Sebagai bagian dari upaya untuk melanjutkan enam pembicaraan,” demikian laporan kantor berita RIA Novosti, dikutip Reuters, Sabtu (29/6/2013).
Negara Asia yang selama ini dikenal penyendiri itu, mulai ikut diskusi dengan Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Rusia dan sekutu utamanya China sejak 2009. Tapi sepanjang diskusi, Korut tetap bersikeras tidak akan pernah meninggalkan program nuklirnya.
Ketegangan kembali terjadi, saat Korut mengancam AS dan Korsel dengan perang nuklir.Selama perjalanan ke Beijing pekan lalu, Kim Kye-gwan mengatakan, denuklirisasi di Semenanjung Korea merupakan keinginan pendiri Korea.
Gedung Putih menyatakan siap berdiskusi, namun harus diikuti tindakan nyata Korut untuk melucuti senjatanya. AS sendiri masih skeptis dengan keseriusan Korut untuk berdiskusi dengan syarat seperti yang diminta AS tersebut.
Dewan Keamanan PBB juga telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Korut selama tiga uji coba nuklir Pyongyang dan banyak peluncuran rudal. Salah satu sanksi itu adalah embargo pada impor dan ekspor teknologi nuklir dan rudal, serta larangan ekspor semua senjatanya.
Seorang juru bicara dari Kementerian Luar Negeri Rusia, menolak untuk mengomentari laporan RIA Novosti yang diterbitkan Jumat malam itu.
Wakil Menteri Pertama Luar Negeri Korut Kim Kye-gwan, akan bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Vladimir Titov dan Igor Morgulov. ”Sebagai bagian dari upaya untuk melanjutkan enam pembicaraan,” demikian laporan kantor berita RIA Novosti, dikutip Reuters, Sabtu (29/6/2013).
Negara Asia yang selama ini dikenal penyendiri itu, mulai ikut diskusi dengan Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Rusia dan sekutu utamanya China sejak 2009. Tapi sepanjang diskusi, Korut tetap bersikeras tidak akan pernah meninggalkan program nuklirnya.
Ketegangan kembali terjadi, saat Korut mengancam AS dan Korsel dengan perang nuklir.Selama perjalanan ke Beijing pekan lalu, Kim Kye-gwan mengatakan, denuklirisasi di Semenanjung Korea merupakan keinginan pendiri Korea.
Gedung Putih menyatakan siap berdiskusi, namun harus diikuti tindakan nyata Korut untuk melucuti senjatanya. AS sendiri masih skeptis dengan keseriusan Korut untuk berdiskusi dengan syarat seperti yang diminta AS tersebut.
Dewan Keamanan PBB juga telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Korut selama tiga uji coba nuklir Pyongyang dan banyak peluncuran rudal. Salah satu sanksi itu adalah embargo pada impor dan ekspor teknologi nuklir dan rudal, serta larangan ekspor semua senjatanya.
Seorang juru bicara dari Kementerian Luar Negeri Rusia, menolak untuk mengomentari laporan RIA Novosti yang diterbitkan Jumat malam itu.
(esn)