Kisah pelacur remaja Ukraina temukan jalan insyaf
Sabtu, 15 Juni 2013 - 13:19 WIB
Kisah pelacur remaja Ukraina temukan jalan insyaf
A
A
A
Sindonews.com - Remaja 17 tahun bernisial SA, menyembunyikan wajahnya di balik topi baseball, saat dia menceritakan penderitaannya hidup serba kekurangan di pesantren tiga tahun lalu.
Di pesantren, SA kekurangan makanan dan pakaian. Kondisi itu membuatnya memilih jalan pintas untuk masuk ke dunia prostitusi.
SA, adalah salah satu dari banyak perempuan muda yang hidup tertekan di Kota Mykolayiv selatan, Urania. Mantan pekerja di galangan kapal itu, di usia mudanya dipaksa untuk memberikan layanan seks untuk mendapatkan uang sebagai penyambung hidupnya.
Bekat bantuan pusat rehabilitasi yang didukung dana UNICEF, PBB, dia dan puluhan remaja perempuan lain menemukan secercah harapan untuk kembali hidup normal di masyarakat.
”Ibuku adalah orang tua tunggal, dan pergi ke Rusia ketika saya berusia dua tahun. Dia meninggalkanku dan tidak pernah kembali,” tutur SA, yang menolak memberikan nama keluarganya, dikutip Reuters, Sabtu (15/6/2013).
Satu-satunya harapan saat itu adalah neneknya. Tapi, sang nenek yang juga mengurus kakak tirinya, juga tidak bisa berbuat banyak karena hidup serba kekurangan. Sebuah pelayan sosial pernah memungut SA dan dititipkan ke panti asuhan. Saat menginjak usia enam tahun, dia pergi ke sekolah asrama atau pesantren.
Tapi saat menginjak usia 14 tahun, SA kabur dari pesantren, penampung anak-anak bermasalah itu. SA dan teman-temannya kemudian dibawa kembali oleh polisi. Kondisi kemiskinan yang mendorong SA lebih memilih bekerja di jalanan.
”Kami butuh uang. Kami ingin pakaian, makanan, dan kami sering kekurangan gizi. Lain dengan yang memiliki pakaian bagus. Tapi kami tidak ada uang untuk membeli itu,” ujar SA.
Spesialis perkembangan remaja di Kantor UNICEF di Ukraina, Olena Sakovych, mengatakan bahwa orang-orang muda dari latar belakang kurang beruntung dan menjalani perilaku seksual yang tidak aman, lebih berisiko tertular penyakit, termasuk HIV.
”Mereka kurang pengetahuan, kurang informasi, mereka dibiarkan saja, sedangkan mereka sendiri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Olena.
SA ingat bagaimana seorang relawan dari UNICEF datang ke pesantren untuk memberitahu kepada pekerja seks muda tentang kemungkinan adanya kehidupan lain yang lebih baik. Relawan itu menyadarkan SA kembali ke jalan yang normal.
”Aku suka berada di sini, orang-orang di sini begitu baik, mereka mulai untuk memberitahu kami apa yang mungkin dilakukan dan apa yang tidak, dan bagaimana untuk keluar dari situasi apa pun,” kata SA.
Di pesantren, SA kekurangan makanan dan pakaian. Kondisi itu membuatnya memilih jalan pintas untuk masuk ke dunia prostitusi.
SA, adalah salah satu dari banyak perempuan muda yang hidup tertekan di Kota Mykolayiv selatan, Urania. Mantan pekerja di galangan kapal itu, di usia mudanya dipaksa untuk memberikan layanan seks untuk mendapatkan uang sebagai penyambung hidupnya.
Bekat bantuan pusat rehabilitasi yang didukung dana UNICEF, PBB, dia dan puluhan remaja perempuan lain menemukan secercah harapan untuk kembali hidup normal di masyarakat.
”Ibuku adalah orang tua tunggal, dan pergi ke Rusia ketika saya berusia dua tahun. Dia meninggalkanku dan tidak pernah kembali,” tutur SA, yang menolak memberikan nama keluarganya, dikutip Reuters, Sabtu (15/6/2013).
Satu-satunya harapan saat itu adalah neneknya. Tapi, sang nenek yang juga mengurus kakak tirinya, juga tidak bisa berbuat banyak karena hidup serba kekurangan. Sebuah pelayan sosial pernah memungut SA dan dititipkan ke panti asuhan. Saat menginjak usia enam tahun, dia pergi ke sekolah asrama atau pesantren.
Tapi saat menginjak usia 14 tahun, SA kabur dari pesantren, penampung anak-anak bermasalah itu. SA dan teman-temannya kemudian dibawa kembali oleh polisi. Kondisi kemiskinan yang mendorong SA lebih memilih bekerja di jalanan.
”Kami butuh uang. Kami ingin pakaian, makanan, dan kami sering kekurangan gizi. Lain dengan yang memiliki pakaian bagus. Tapi kami tidak ada uang untuk membeli itu,” ujar SA.
Spesialis perkembangan remaja di Kantor UNICEF di Ukraina, Olena Sakovych, mengatakan bahwa orang-orang muda dari latar belakang kurang beruntung dan menjalani perilaku seksual yang tidak aman, lebih berisiko tertular penyakit, termasuk HIV.
”Mereka kurang pengetahuan, kurang informasi, mereka dibiarkan saja, sedangkan mereka sendiri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Olena.
SA ingat bagaimana seorang relawan dari UNICEF datang ke pesantren untuk memberitahu kepada pekerja seks muda tentang kemungkinan adanya kehidupan lain yang lebih baik. Relawan itu menyadarkan SA kembali ke jalan yang normal.
”Aku suka berada di sini, orang-orang di sini begitu baik, mereka mulai untuk memberitahu kami apa yang mungkin dilakukan dan apa yang tidak, dan bagaimana untuk keluar dari situasi apa pun,” kata SA.
(esn)