Dukung invasi Perancis di Mali, Kanada kirim pesawat militer
Selasa, 15 Januari 2013 - 09:00 WIB
Dukung invasi Perancis di Mali, Kanada kirim pesawat militer
A
A
A
Sindonews.com - Kanada akan mengirim pesawat transportasi militer untuk mendukung upaya Perancis melawan pemberontak di wilayah utara Mali. Demikian pernyataan yang dikeluarkan Pemerintah Kanada, Senin (14/1/2013).
"Untuk sementara Pemerintah Kanada tidak akan mempertimbangkan misi militer langsung di Mali. Kanada siap untuk memberikan dukungan terbatas dan dukungan logistik untuk membantu pasukan yang campur tangan di Mali," kata Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Menurut Harper, pengiriman pesawat kargo raksasa C-17 dilakukan atas permintaan Perancis. Pesawat ini akan terbang dari Kanada ke Perancis, untuk kemudian menuju Ibu Kota Mali, Bamako. “Di Bamako, pesawat akan membongkar muatan. Pesawat ini akan bertugas selama satu pekan,” lanjut Harper.
Setelah empat hari digempur oleh serangan udara Perancis, kaum pemberontak yang memiliki kaitan dengan al-Qaeda meluncurkan serangan balasan. Kaum pemberontak juga menegaskan bakal melakukan perlawanan sengit dan siap menjalani perang jangka panjang.
"Kami sangat prihatin dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Mali. Pembentukan wilayah teroris di tengah-tengah Afrika menjadi keprihatinan yang mendalam bagi masyarakat internasional yang lebih luas, termasuk Kanada dan sekutu dekat kami," jelas Harper.
Kanada tak lagi berniat mengirim pasukan tempur dalam sebuah operasi militer gabungan, setelah ambil bagian dalam misi lima tahun dalam perang Afghanistan. Kanada menarik seluruh tentaranya dari Afghanistan pada 2011, dengan jumlah korban tewas 158 tentara.
Selain Kanada, Inggris juga menyatakan dukungan terbatas pada invasi militer Perancis di Mali. Sama seperti Kanada, Inggris juga mengirim dua pesawat kargo C-17 untuk mengangkut peralatan medis, tank, dan peralatan lainnya untuk tentara Perancis di Mali.
"Untuk sementara Pemerintah Kanada tidak akan mempertimbangkan misi militer langsung di Mali. Kanada siap untuk memberikan dukungan terbatas dan dukungan logistik untuk membantu pasukan yang campur tangan di Mali," kata Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Menurut Harper, pengiriman pesawat kargo raksasa C-17 dilakukan atas permintaan Perancis. Pesawat ini akan terbang dari Kanada ke Perancis, untuk kemudian menuju Ibu Kota Mali, Bamako. “Di Bamako, pesawat akan membongkar muatan. Pesawat ini akan bertugas selama satu pekan,” lanjut Harper.
Setelah empat hari digempur oleh serangan udara Perancis, kaum pemberontak yang memiliki kaitan dengan al-Qaeda meluncurkan serangan balasan. Kaum pemberontak juga menegaskan bakal melakukan perlawanan sengit dan siap menjalani perang jangka panjang.
"Kami sangat prihatin dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Mali. Pembentukan wilayah teroris di tengah-tengah Afrika menjadi keprihatinan yang mendalam bagi masyarakat internasional yang lebih luas, termasuk Kanada dan sekutu dekat kami," jelas Harper.
Kanada tak lagi berniat mengirim pasukan tempur dalam sebuah operasi militer gabungan, setelah ambil bagian dalam misi lima tahun dalam perang Afghanistan. Kanada menarik seluruh tentaranya dari Afghanistan pada 2011, dengan jumlah korban tewas 158 tentara.
Selain Kanada, Inggris juga menyatakan dukungan terbatas pada invasi militer Perancis di Mali. Sama seperti Kanada, Inggris juga mengirim dua pesawat kargo C-17 untuk mengangkut peralatan medis, tank, dan peralatan lainnya untuk tentara Perancis di Mali.
(esn)