PM Najib hadapi pemilu tak biasa
Jum'at, 30 November 2012 - 17:29 WIB
PM Najib hadapi pemilu tak biasa
A
A
A
Sindonews.com — Perdana Menteri Malaysia Najib Razak kemarin menyatakan pemilu nasional yang segera digelar akan menjadi pemilu “yang tidak biasa.” Pernyataan itu dilontarkan Najib ketika partai berkuasa pimpinannya, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), menghadapi tantangan paling serius dalam 50 tahun kekuasaannya.
Najib harus menggelar pemilu pada pertengahan 2013 mendatang, di tengah naiknya popularitas oposisi yang mampu meraih angka lumayan pada pemilu 2008. Dalam pidatonya di sidang umum terakhir UMNO jelang pemilu, Najib juga menyatakan bahwa oposisi akan meruntuhkan ekonomi jika sampai menang.
“Kita akan bersaing untuk tiap suara, kita akan bekerja untuk memenangkan kepercayaan tiap warga Malaysia, kita akan mengetuk tiap pintu,kita harus membuka tiap jalan menuju harapan,” ujar Najib, seperti dikutip AFP.
“Pemilu ke-13 ini bukanlah pemilu biasa. Itu akan menentukan nasib negara dan rakyat.” Koalisi berkuasa pimpinan UMNO,Barisan Nasional (BN), akan menghadapi aliansi oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim—mantan deputi perdana menteri dan bintang UMNO yang digulingkan pada 1998 setelah tidak sepaham dengan perdana menteri saat itu, Mahathir Mohamad. Najib juga harus menghadapi para pemilih pada pemilu sebagai perdana menteri.
Dia dilantik pada 2009 setelah pendahulunya digulingkan akibat hasil pemilu yang dipandang cukup memalukan bagi UMNO pada 2008. Beberapa analis politik memprediksi oposisi memiliki peluang menang yang kuat. Tapi, Najib bisa menghadapi tantangan kepemimpinan partai jika koalisi gagal mengklaim lagi dua pertiga mayoritas parlemen yang hilang pada pemilu 2008.
Najib telah berusaha mendulang dukungan dengan mempresentasikan diri sebagai seorang reformis, yang menghapus undang-undang represif yang dilihat sebagai alat untuk memberangus pembangkang. Dia juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat— dengan 5,5% kenaikan dalam kuartal terakhir.
Najib mengindikasikan kampanye akan berfokus pada masalah ekonomi dan menggambarkan oposisi sebagai pihak yang tidak berpengalaman meskipun Anwar pernah menjabat sebagai menteri keuangan.“Dalam tiga tahun (kalah oposisi menang), kita akan mencapai tahap kritis di mana kita akan kehilangan kedaulatan ekonomi seperti Yunani,” ujar dia.
Najib harus menggelar pemilu pada pertengahan 2013 mendatang, di tengah naiknya popularitas oposisi yang mampu meraih angka lumayan pada pemilu 2008. Dalam pidatonya di sidang umum terakhir UMNO jelang pemilu, Najib juga menyatakan bahwa oposisi akan meruntuhkan ekonomi jika sampai menang.
“Kita akan bersaing untuk tiap suara, kita akan bekerja untuk memenangkan kepercayaan tiap warga Malaysia, kita akan mengetuk tiap pintu,kita harus membuka tiap jalan menuju harapan,” ujar Najib, seperti dikutip AFP.
“Pemilu ke-13 ini bukanlah pemilu biasa. Itu akan menentukan nasib negara dan rakyat.” Koalisi berkuasa pimpinan UMNO,Barisan Nasional (BN), akan menghadapi aliansi oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim—mantan deputi perdana menteri dan bintang UMNO yang digulingkan pada 1998 setelah tidak sepaham dengan perdana menteri saat itu, Mahathir Mohamad. Najib juga harus menghadapi para pemilih pada pemilu sebagai perdana menteri.
Dia dilantik pada 2009 setelah pendahulunya digulingkan akibat hasil pemilu yang dipandang cukup memalukan bagi UMNO pada 2008. Beberapa analis politik memprediksi oposisi memiliki peluang menang yang kuat. Tapi, Najib bisa menghadapi tantangan kepemimpinan partai jika koalisi gagal mengklaim lagi dua pertiga mayoritas parlemen yang hilang pada pemilu 2008.
Najib telah berusaha mendulang dukungan dengan mempresentasikan diri sebagai seorang reformis, yang menghapus undang-undang represif yang dilihat sebagai alat untuk memberangus pembangkang. Dia juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kuat— dengan 5,5% kenaikan dalam kuartal terakhir.
Najib mengindikasikan kampanye akan berfokus pada masalah ekonomi dan menggambarkan oposisi sebagai pihak yang tidak berpengalaman meskipun Anwar pernah menjabat sebagai menteri keuangan.“Dalam tiga tahun (kalah oposisi menang), kita akan mencapai tahap kritis di mana kita akan kehilangan kedaulatan ekonomi seperti Yunani,” ujar dia.
(esn)