Mesir percepat susun konstitusi
Jum'at, 30 November 2012 - 17:21 WIB
Mesir percepat susun konstitusi
A
A
A
Sindonews.com – Majelis yang merancang konstitusi Mesir berharap dapat melakukan pemungutan suara atas draf kasar konstitusi yang digelar kemarin. Pejabat majelis rakyat mengatakan, mereka telah memasuki tahap akhir rancangan undang- undang meski Presiden Mesir, Mohamed Morsi telah memperpanjang tenggat waktu hingga Februari.
Majelis tersebut didominasi oleh Ikhawanul Muslimin (IM) dan sekutu Morsi. “Majelis seharusnya menggabungkan berbagai isu penting dan memulai pemungutan suara pada hari ini (kemarin) atas konstitusi itu,” kata Essam al-Erian, anggota senior IM dan penasihat Morsi pada AFP.
Nantinya, draf konstitusi tersebut bakal dikirim ke Morsi, yang nantinya bakal menyerukan referendum untuk meratifikasi konstitusi baru itu dalam waktu dua pekan.
Para anggota liberal sayap kiri dan Kristen memboikot badan itu dan menuduh kelompok Islam berusaha mengeksploitasi visi mereka. Langkah terbaru itu tampaknya bertujuan untuk memengaruhi keputusan pengadilan konstitusi hari Minggu (2/11) mendatang.
“Hal ini tidak masuk akal dan salah satu langkah yang tidak seharusnya dilakukan, atas dasar kemarahan dan penolakan terhadap majelis konstitusi yang sekarang,” kata tokoh oposisi Amr Moussa dikutip Reuters.
Kubu liberal, kiri dan perwakilan Kristen telah menarik diri dari majelis yang menyusun konstitusi.Mereka mengeluhkan karena majelis itu dianggap tidak demokratis dan terlalu terburu-buru dalam menyusun konstitusi.
IM pun menanggapi boikot tersebut. Ketua majelis penyusun konstitusi, Hossan al - Gheriani,menyarankan kubu liberal, kiri dan perwakilan Kristen Koptik yang walk out untuk kembali bergabung dan menyelesaikan diskusi. “Hari ini (kemarin) bakal menjadi hari agung,” tutur Gheriani.
Kabar penyelesaian draf kasar tersebut bersamaan dengan informasi dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengindikasikan akan mengambil keputusan untuk mempertahankan atau membubarkan majelis penyusun konstitusi pada Minggu (1/12). Wakil Ketua MK Maher Sami mengatakan dalam pidato televisi bahwa pembacaan keputusan tidak akan ditunda.
“Pengadilan bertekad untuk bangkit dari penderitaan dan melanjutkan misi suci hingga titik akhir,ke mana pun hal itu membawa kami,” katanya dikutip BBC. Sebelumnya MK telah lebih dahulu membubarkan majelis rendah Parlemen Mesir yang dipimpin oleh IM.
Memang elemen yudisial Mesir sedang terlibat ketegangan dengan Morsi dan para pendukungnya setelah pekan lalu Mursi mengeluarkan dekrit presiden yang memberinya kekuasaan besar.
Dekrit yang memicu protes itu memberikan Morsi kekuasaan untuk melakukan berbagai upaya untuk melindungi revolusi dan menyatakan tidak ada pengadilan yang dapat membatalkan keputusannya. Dekrit berlaku hingga konstitusi baru ditetapkan.
Oposisi pun menuduh Morsi berusaha memiliki kekuasaan absolut. Dalam wawancara dengan Morsi yang dirilis oleh majalah TIME, dia mengabaikan kritik yang menyebutkan keserakahannya terhadap kekuasaan.
“Tanggung jawab saya sebagai presiden untuk menjaga kapal nasional ini melalui periode transisi. Itu tidak mudah. Rakyat Mesir yang bergerak maju dengan demokrasi dan kebebasan,” tutur Morsi. Mursi menganggap bangsa Mesir masih belajar.“Kita masih belajar untuk menjadi bangsa yang bebas.
Kita tidak pernah merasakan ini sebelumnya,” tegasnya. Ditanya mengenai tanggapannya disebut sebagai firaun baru, Mursi justru merasa heran.“ Bisakah saya?” tanyanya kembali. "Secara pribadi, saya orang yang banyak kekurangan.” Dia menegaskan dirinya hanya presiden yang dipilih rakyat Mesir.
Majelis tersebut didominasi oleh Ikhawanul Muslimin (IM) dan sekutu Morsi. “Majelis seharusnya menggabungkan berbagai isu penting dan memulai pemungutan suara pada hari ini (kemarin) atas konstitusi itu,” kata Essam al-Erian, anggota senior IM dan penasihat Morsi pada AFP.
Nantinya, draf konstitusi tersebut bakal dikirim ke Morsi, yang nantinya bakal menyerukan referendum untuk meratifikasi konstitusi baru itu dalam waktu dua pekan.
Para anggota liberal sayap kiri dan Kristen memboikot badan itu dan menuduh kelompok Islam berusaha mengeksploitasi visi mereka. Langkah terbaru itu tampaknya bertujuan untuk memengaruhi keputusan pengadilan konstitusi hari Minggu (2/11) mendatang.
“Hal ini tidak masuk akal dan salah satu langkah yang tidak seharusnya dilakukan, atas dasar kemarahan dan penolakan terhadap majelis konstitusi yang sekarang,” kata tokoh oposisi Amr Moussa dikutip Reuters.
Kubu liberal, kiri dan perwakilan Kristen telah menarik diri dari majelis yang menyusun konstitusi.Mereka mengeluhkan karena majelis itu dianggap tidak demokratis dan terlalu terburu-buru dalam menyusun konstitusi.
IM pun menanggapi boikot tersebut. Ketua majelis penyusun konstitusi, Hossan al - Gheriani,menyarankan kubu liberal, kiri dan perwakilan Kristen Koptik yang walk out untuk kembali bergabung dan menyelesaikan diskusi. “Hari ini (kemarin) bakal menjadi hari agung,” tutur Gheriani.
Kabar penyelesaian draf kasar tersebut bersamaan dengan informasi dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengindikasikan akan mengambil keputusan untuk mempertahankan atau membubarkan majelis penyusun konstitusi pada Minggu (1/12). Wakil Ketua MK Maher Sami mengatakan dalam pidato televisi bahwa pembacaan keputusan tidak akan ditunda.
“Pengadilan bertekad untuk bangkit dari penderitaan dan melanjutkan misi suci hingga titik akhir,ke mana pun hal itu membawa kami,” katanya dikutip BBC. Sebelumnya MK telah lebih dahulu membubarkan majelis rendah Parlemen Mesir yang dipimpin oleh IM.
Memang elemen yudisial Mesir sedang terlibat ketegangan dengan Morsi dan para pendukungnya setelah pekan lalu Mursi mengeluarkan dekrit presiden yang memberinya kekuasaan besar.
Dekrit yang memicu protes itu memberikan Morsi kekuasaan untuk melakukan berbagai upaya untuk melindungi revolusi dan menyatakan tidak ada pengadilan yang dapat membatalkan keputusannya. Dekrit berlaku hingga konstitusi baru ditetapkan.
Oposisi pun menuduh Morsi berusaha memiliki kekuasaan absolut. Dalam wawancara dengan Morsi yang dirilis oleh majalah TIME, dia mengabaikan kritik yang menyebutkan keserakahannya terhadap kekuasaan.
“Tanggung jawab saya sebagai presiden untuk menjaga kapal nasional ini melalui periode transisi. Itu tidak mudah. Rakyat Mesir yang bergerak maju dengan demokrasi dan kebebasan,” tutur Morsi. Mursi menganggap bangsa Mesir masih belajar.“Kita masih belajar untuk menjadi bangsa yang bebas.
Kita tidak pernah merasakan ini sebelumnya,” tegasnya. Ditanya mengenai tanggapannya disebut sebagai firaun baru, Mursi justru merasa heran.“ Bisakah saya?” tanyanya kembali. "Secara pribadi, saya orang yang banyak kekurangan.” Dia menegaskan dirinya hanya presiden yang dipilih rakyat Mesir.
(esn)