Morsi kian tersudut
Kamis, 29 November 2012 - 18:06 WIB
Morsi kian tersudut
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan ribu demonstran masih bertahan di Lapangan Tahrir, kemarin, untuk memprotes dekrit yang dikeluarkan Presiden Mesir Muhammad Morsi.
Posisi Morsi semakin tersudutkan setelah puluhan ribu rakyat Mesir berdemonstrasi di 27 provinsi pada Selasa (27/11). Itu merupakan mobilisasi massa terbesar untuk menentang pemerintahannya sejak dia berkuasa Juni lalu.
Di Lapangan Tahrir,demonstran bukan hanya dari penentang Morsi.Banyak pendukung Morsi yang berubah haluan menjadi penentangnya. ”Saya di sini berdemonstrasi karena menentang keputusan autokrasi Mesir,” kata Mohammed Rashwan, sarjana teknik yang memilih Morsi pada pemilu presiden yang lalu.
Polisi kemarin kembali bentrok dengan pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir. Aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata ke massa. Tak mau kalah, para demonstran membalas serangan polisi dengan melemparkan kembali gas air mata ke barisan polisi.
Kerusuhan di lapangan Tahrir telah memasuki hari kesembilan kemarin.Tayangan televisi menunjukkan gas air mata tersebar ke mana-mana saat demonstran dan polisi saling berhadapan di dekat Kedutaan Besar AS di Kairo.
Sebanyak tiga orang meninggal dunia dalam aksi kerusuhan sejak Morsi mengeluarkan dekrit presiden. Dalam demonstrasi Selasa (27/11) lalu, sebanyak 100 orang terluka, termasuk 21 pengunjuk rasa di Kairo.
Ikhawanul Muslimin (IM) yang mendukung Morsi, memutuskan membatalkan demo tandingan untuk menghindari bentrok dengan oposisi. Namun, beberapa insiden kerusuhan antar-pendukung dan penentang Mursi tetap terjadi.
Dalam status Twitter, IM menantang bakal mengerahkan jutaan orang untuk menyerukan dukungan terhadap Mursi, setelah 200.000 hingga 300.000 penentang presiden turun ke jalanan. Sementara,Partai Kebebasan dan Keadilan (FPJ), sayap politik IM, menegaskan Morsi telah meyakinkan para hakim yang sebelumnya mempermasalahkan dekrit presiden.
Namun, beberapa hakim yang mengikuti pertemuan dengan Mursi justru menyatakan ketidakpuasan dengan jawaban Mursi yang bakal membatasi ruang lingkup dekrit tersebut. ”Pertemuan (dengan Morsi) gagal. Kita tidak mengatakan ini sebagai akhir dari krisis antara kehakiman dan kepresidenan,” kata Hakim Abdel Rahman Bahlul kepada harian independen Al Masry Al Youm.
Posisi Morsi semakin tersudutkan setelah puluhan ribu rakyat Mesir berdemonstrasi di 27 provinsi pada Selasa (27/11). Itu merupakan mobilisasi massa terbesar untuk menentang pemerintahannya sejak dia berkuasa Juni lalu.
Di Lapangan Tahrir,demonstran bukan hanya dari penentang Morsi.Banyak pendukung Morsi yang berubah haluan menjadi penentangnya. ”Saya di sini berdemonstrasi karena menentang keputusan autokrasi Mesir,” kata Mohammed Rashwan, sarjana teknik yang memilih Morsi pada pemilu presiden yang lalu.
Polisi kemarin kembali bentrok dengan pengunjuk rasa di Lapangan Tahrir. Aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata ke massa. Tak mau kalah, para demonstran membalas serangan polisi dengan melemparkan kembali gas air mata ke barisan polisi.
Kerusuhan di lapangan Tahrir telah memasuki hari kesembilan kemarin.Tayangan televisi menunjukkan gas air mata tersebar ke mana-mana saat demonstran dan polisi saling berhadapan di dekat Kedutaan Besar AS di Kairo.
Sebanyak tiga orang meninggal dunia dalam aksi kerusuhan sejak Morsi mengeluarkan dekrit presiden. Dalam demonstrasi Selasa (27/11) lalu, sebanyak 100 orang terluka, termasuk 21 pengunjuk rasa di Kairo.
Ikhawanul Muslimin (IM) yang mendukung Morsi, memutuskan membatalkan demo tandingan untuk menghindari bentrok dengan oposisi. Namun, beberapa insiden kerusuhan antar-pendukung dan penentang Mursi tetap terjadi.
Dalam status Twitter, IM menantang bakal mengerahkan jutaan orang untuk menyerukan dukungan terhadap Mursi, setelah 200.000 hingga 300.000 penentang presiden turun ke jalanan. Sementara,Partai Kebebasan dan Keadilan (FPJ), sayap politik IM, menegaskan Morsi telah meyakinkan para hakim yang sebelumnya mempermasalahkan dekrit presiden.
Namun, beberapa hakim yang mengikuti pertemuan dengan Mursi justru menyatakan ketidakpuasan dengan jawaban Mursi yang bakal membatasi ruang lingkup dekrit tersebut. ”Pertemuan (dengan Morsi) gagal. Kita tidak mengatakan ini sebagai akhir dari krisis antara kehakiman dan kepresidenan,” kata Hakim Abdel Rahman Bahlul kepada harian independen Al Masry Al Youm.
(esn)