Keberadaan putra tertua Kim masih misteri
Senin, 26 Desember 2011 - 07:52 WIB
Keberadaan putra tertua Kim masih misteri
A
A
A
Sindonews.com-Jong-nam,40,diyakini hidup mewah di pusat perjudian China,Makau, sejak dia tertangkap pada 2001 karena masuk Jepang menggunakan paspor palsu, dengan alasan ingin membawa keluarganya ke Disneyland. Jong-nam seharusnya menjadi pengganti alami yang memimpin Korut setelah ayahnya meninggal dunia.
Namun,dia justru dibuang ayahnya dan elite rezim Korut. Adik tirinya,Kim Jong-un, justru yang semakin populer sejak 2009 untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Korut.
Aktivitas Jong-nam sejak pengumuman meninggalnya Kim pada Senin (19/12),dapat memberi petunjuk tentang berbagai intrik di Pyongyang selama masa transisi kekuasaan yang sangat sensitif di negara bersenjata nuklir tersebut. Namun,para pengamat di Makau menyatakan Jong-nam tetap berada di bawah radar alias tidak terlacak.
“Dia bergerak ke sana-sini.Sulit untuk melacaknya.Kadang dia tinggal di rumahnya, kadang dia tinggal di hotel yang berbeda.Tidak ada petunjuk di mana dia tinggal sekarang,”papar Ricardo Pinto,penerbit majalah Macau Closer,yang selalu memantau kedatangan dan kepergian Jong-nam di bekas koloni Portugis tersebut.
Penampilan publik Jongnam terjadi pada Januari tahun ini,saat dia memberikan wawancara pada harian Jepang,Tokyo Shimbun,di sebuah lokasi rahasia di China Selatan.
Dia mengatakan kepada harian itu bahwa Kim Jong-il yang berkuasa pada 1994 setelah kematian ayahnya,Kim Ilsung, menentang suksesi generasi ketiga. Namun,Jong-nam mengatakan bahwa ayahnya memilih Jong-un yang berusia 20 tahunan dan relatif tidak berpengalaman,untuk menjaga stabilitas nasional.
“Suksesi turun-temurun tidak terjadi bahkan di bawah pemimpin China Mao Zedong. Suksesi turun-temurun tidak sesuai sosialisme dan ayah saya menentangnya,”kata Jong-nam yang saat itu mengenakan kaca mata plastik berwarna cokelat,kaus merah muda,dan jaket hitam.
“Saya paham bahwa itu dilakukan untuk menstabilkan kerangka kerja bangsa,”tutur Jong-nam,yang memperingatkan bahwa kekacauan di Korut akan mengacaukan kawasan sekitarnya.
Sementara sebagian besar pengamat Kim yakin,Jongnam menggunakan Makau sebagai basis tempat tinggalnya,Jong-nam juga dilaporkan tinggal di Beijing dan secara rutin mengunjungi Austria,Prancis,dan Thailand, serta Korut.
Pengamat mengatakan, menyerahkan kekuasaan pada generasi baru akan membuka peluang reformasi dan memperbaiki hubungan Korut dengan dunia luar.Menurut pengamat,Jong-un yang berpendidikan Swiss itu merupakan pemimpin pertama Korut,dari dua generasi sebelumnya,yang memiliki pengalaman tinggal di Barat.
Jong-nam juga mengenyam pendidikan di Swiss,namun dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berjudi dan menikmati semangat kebebasan di luar negeri.Hal inilah yang mungkin membuat para elit Korut tidak terlalu menyukai Jong-nam.
“Jika saya pengganti (Kim), akankah Anda melihat saya di Makau menggunakan baju kasual dan berlibur? Saya hanya putra Kim Jong-il,”kata Jong-nam pada 2009. “
Dia dikucilkan terlalu lama dan tidak lagi memiliki basis politik di Korut. Tampaknya dia tidak akan memiliki peran apa pun,”kata Joseph Cheng,pengamat politik dari City University, Hong Kong,kepada AFP.
Namun,dia justru dibuang ayahnya dan elite rezim Korut. Adik tirinya,Kim Jong-un, justru yang semakin populer sejak 2009 untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Korut.
Aktivitas Jong-nam sejak pengumuman meninggalnya Kim pada Senin (19/12),dapat memberi petunjuk tentang berbagai intrik di Pyongyang selama masa transisi kekuasaan yang sangat sensitif di negara bersenjata nuklir tersebut. Namun,para pengamat di Makau menyatakan Jong-nam tetap berada di bawah radar alias tidak terlacak.
“Dia bergerak ke sana-sini.Sulit untuk melacaknya.Kadang dia tinggal di rumahnya, kadang dia tinggal di hotel yang berbeda.Tidak ada petunjuk di mana dia tinggal sekarang,”papar Ricardo Pinto,penerbit majalah Macau Closer,yang selalu memantau kedatangan dan kepergian Jong-nam di bekas koloni Portugis tersebut.
Penampilan publik Jongnam terjadi pada Januari tahun ini,saat dia memberikan wawancara pada harian Jepang,Tokyo Shimbun,di sebuah lokasi rahasia di China Selatan.
Dia mengatakan kepada harian itu bahwa Kim Jong-il yang berkuasa pada 1994 setelah kematian ayahnya,Kim Ilsung, menentang suksesi generasi ketiga. Namun,Jong-nam mengatakan bahwa ayahnya memilih Jong-un yang berusia 20 tahunan dan relatif tidak berpengalaman,untuk menjaga stabilitas nasional.
“Suksesi turun-temurun tidak terjadi bahkan di bawah pemimpin China Mao Zedong. Suksesi turun-temurun tidak sesuai sosialisme dan ayah saya menentangnya,”kata Jong-nam yang saat itu mengenakan kaca mata plastik berwarna cokelat,kaus merah muda,dan jaket hitam.
“Saya paham bahwa itu dilakukan untuk menstabilkan kerangka kerja bangsa,”tutur Jong-nam,yang memperingatkan bahwa kekacauan di Korut akan mengacaukan kawasan sekitarnya.
Sementara sebagian besar pengamat Kim yakin,Jongnam menggunakan Makau sebagai basis tempat tinggalnya,Jong-nam juga dilaporkan tinggal di Beijing dan secara rutin mengunjungi Austria,Prancis,dan Thailand, serta Korut.
Pengamat mengatakan, menyerahkan kekuasaan pada generasi baru akan membuka peluang reformasi dan memperbaiki hubungan Korut dengan dunia luar.Menurut pengamat,Jong-un yang berpendidikan Swiss itu merupakan pemimpin pertama Korut,dari dua generasi sebelumnya,yang memiliki pengalaman tinggal di Barat.
Jong-nam juga mengenyam pendidikan di Swiss,namun dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berjudi dan menikmati semangat kebebasan di luar negeri.Hal inilah yang mungkin membuat para elit Korut tidak terlalu menyukai Jong-nam.
“Jika saya pengganti (Kim), akankah Anda melihat saya di Makau menggunakan baju kasual dan berlibur? Saya hanya putra Kim Jong-il,”kata Jong-nam pada 2009. “
Dia dikucilkan terlalu lama dan tidak lagi memiliki basis politik di Korut. Tampaknya dia tidak akan memiliki peran apa pun,”kata Joseph Cheng,pengamat politik dari City University, Hong Kong,kepada AFP.
()