Bom beruntun di Irak, 63 tewas
Jum'at, 23 Desember 2011 - 10:29 WIB
Bom beruntun di Irak, 63 tewas
A
A
A
Sindonews.com– Serangan bom beruntun di 14 lokasi di Baghdad kemarin menewaskan 63 orang dan melukai 185 orang. Kekerasan sektarian dikhawatirkan memburuk. Kementerian Dalam Negeri Irak menyatakan kepada BBC, sebanyak 14 serangan bom terjadi di berbagai lokasi, termasuk al-Amil, Halawi, dan Karrada.
Pengeboman itu merupakan serangan terburuk pada bulan-bulan terakhir penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara tersebut. Bom-bom itu meledak bertepatan saat banyak orang berangkat kerja pada pagi hari. Empat bom mobil dan 10 bom diledakkan pelaku teror tanpa peringatan apa pun.
Juru bicara pihak keamanan di Baghdad Mayor Jenderal Qassim Atta mengatakan, penyerang tidak menargetkan aparat keamanan. “Mereka menargetkan anak-anak sekolah, pekerja,dan badan anti-korupsi,” kata Atta kepada AFP.
Atta menuturkan, masih terlalu dini untuk mengetahui siapa yang berada di balik serangkaian serangan bom. Seorang saksi mata,Raghad Khalid, guru Taman Kanak- Kanak di Karrada mengatakan, semua jendela sekolah rusak akibat ledakan bom.
“Anak-anak ketakutan dan menangis. Beberapa bagian bom mobil terlempar ke gedung sekolah,”terang Khalid. Gumpalan asap membumbung di atas distrik Karrada dan mobil-mobil ambulans melaju ke lokasi kejadian. Seorang warga setempat mengatakan bahwa tubuh putrinya terkena pecahan kaca jendela.
“Putri saya sekarang ketakutan dan sedang berada di ruang sebelah.Katanya negara sudah stabil,tapi mengapa kami tidak menikmati stabilitas dan keamanan?” kata Um Hanin.
Khusus di distrik Karrada, sebanyak 18 orang tewas saat seseorang yang mengendarai sebuah mobil ambulans yang kemudian diledakkan di dekat kantor pemerintah.“Kita mendengar suara mobil, kemudian suara mobil yang berhenti mendadak, lantas terdengar ledakan besar.Semua jendela pecah dan pintu hancur.Asap hitam memenuhiapartemenkami,” ujarMaysoun Kamal, penduduk yang tinggal di kompleks Karrada.
Di al-Amil terjadi dua ledakan. Ledakan kedua tampaknya menargetkan regu penolong yang mendatangi lokasi kejadian setelah bom pertama meledak. Ledakan itu mengakibat tujuh orang tewas. Serangan teror itu belum berhenti.
Sebuah bom mobil meledak di perkampungan di Doura selatan dan mengakibatkan tiga orang tewas dan melukai tujuh orang. Bom lain meledak di kawasan Alawi, Shaab, dan Shula di utara. Sebagian besar wilayah yang menjadi target serangan bom adalah kawasan Syiah.
Al Jazeeramelaporkan,otoritas belum mengetahui siapa yang menjadi dalang serangan keji itu. Pihak keamanan juga belum mengidentifikasi para tersangka. Tragedi ini menjadi kemunduran bagipasukankeamananIrakyang memiliki jumlah cukup banyak di ibu kota.Padahal,banyak sekali pos pemeriksaan,blokade jalanan, dan kehadiran militer serta polisi diberbagai tempat diBaghdad.
Berbagai serangan bom terjadi di tengah krisis politik setelah pihak berwenang mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Wakil Presiden Irak Tareq al-Hasheimi, politikus senior dari kelompok Suni. Kelompok Suni memprotes kebijakan yang dibuat Pemerintah Irak yang didominasi kalangan Syiah.Mereka menuduh Perdana Menteri Irak Nouri Maliki dari kubu Syiah berusaha memonopoli kekuasaan.
Konflik antara Syiah dan Suni dikhawatirkan memicu kekerasan yang lebih intensif dibandingkan sebelumnya.Konflik ini sangat rawan terjadi saat pasukan AS ditarik seluruhnya dari Irak akhir tahun ini.
Pengeboman itu merupakan serangan terburuk pada bulan-bulan terakhir penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara tersebut. Bom-bom itu meledak bertepatan saat banyak orang berangkat kerja pada pagi hari. Empat bom mobil dan 10 bom diledakkan pelaku teror tanpa peringatan apa pun.
Juru bicara pihak keamanan di Baghdad Mayor Jenderal Qassim Atta mengatakan, penyerang tidak menargetkan aparat keamanan. “Mereka menargetkan anak-anak sekolah, pekerja,dan badan anti-korupsi,” kata Atta kepada AFP.
Atta menuturkan, masih terlalu dini untuk mengetahui siapa yang berada di balik serangkaian serangan bom. Seorang saksi mata,Raghad Khalid, guru Taman Kanak- Kanak di Karrada mengatakan, semua jendela sekolah rusak akibat ledakan bom.
“Anak-anak ketakutan dan menangis. Beberapa bagian bom mobil terlempar ke gedung sekolah,”terang Khalid. Gumpalan asap membumbung di atas distrik Karrada dan mobil-mobil ambulans melaju ke lokasi kejadian. Seorang warga setempat mengatakan bahwa tubuh putrinya terkena pecahan kaca jendela.
“Putri saya sekarang ketakutan dan sedang berada di ruang sebelah.Katanya negara sudah stabil,tapi mengapa kami tidak menikmati stabilitas dan keamanan?” kata Um Hanin.
Khusus di distrik Karrada, sebanyak 18 orang tewas saat seseorang yang mengendarai sebuah mobil ambulans yang kemudian diledakkan di dekat kantor pemerintah.“Kita mendengar suara mobil, kemudian suara mobil yang berhenti mendadak, lantas terdengar ledakan besar.Semua jendela pecah dan pintu hancur.Asap hitam memenuhiapartemenkami,” ujarMaysoun Kamal, penduduk yang tinggal di kompleks Karrada.
Di al-Amil terjadi dua ledakan. Ledakan kedua tampaknya menargetkan regu penolong yang mendatangi lokasi kejadian setelah bom pertama meledak. Ledakan itu mengakibat tujuh orang tewas. Serangan teror itu belum berhenti.
Sebuah bom mobil meledak di perkampungan di Doura selatan dan mengakibatkan tiga orang tewas dan melukai tujuh orang. Bom lain meledak di kawasan Alawi, Shaab, dan Shula di utara. Sebagian besar wilayah yang menjadi target serangan bom adalah kawasan Syiah.
Al Jazeeramelaporkan,otoritas belum mengetahui siapa yang menjadi dalang serangan keji itu. Pihak keamanan juga belum mengidentifikasi para tersangka. Tragedi ini menjadi kemunduran bagipasukankeamananIrakyang memiliki jumlah cukup banyak di ibu kota.Padahal,banyak sekali pos pemeriksaan,blokade jalanan, dan kehadiran militer serta polisi diberbagai tempat diBaghdad.
Berbagai serangan bom terjadi di tengah krisis politik setelah pihak berwenang mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Wakil Presiden Irak Tareq al-Hasheimi, politikus senior dari kelompok Suni. Kelompok Suni memprotes kebijakan yang dibuat Pemerintah Irak yang didominasi kalangan Syiah.Mereka menuduh Perdana Menteri Irak Nouri Maliki dari kubu Syiah berusaha memonopoli kekuasaan.
Konflik antara Syiah dan Suni dikhawatirkan memicu kekerasan yang lebih intensif dibandingkan sebelumnya.Konflik ini sangat rawan terjadi saat pasukan AS ditarik seluruhnya dari Irak akhir tahun ini.
()