Retas Equifax, AS Dakwa 4 Hacker Militer China

Selasa, 11 Februari 2020 - 10:43 WIB
A A A
Para pejabat AS mengatakan, peretas China berada di belakang pelanggaran besar-besaran di Kantor Manajemen Personalia, yang terungkap pada 2015 dan melibatkan kompromi data pribadi sensitif yang diajukan oleh pelamar untuk izin keamanan pemerintah AS.

Pelanggaran itu mengungkap nama, nomor Jaminan Sosial dan alamat lebih dari 22 juta karyawan dan kontraktor federal AS serta 5,6 juta sidik jari.

Peretas China juga diduga berada di belakang pelanggaran besar-besaran di grup hotel Marriott International.

Peretasan terhadap Equifax cocok dengan pola serangan siber China di masa lalu. Demikian disampaikan Michael Daniel, mantan koordinator keamanan siber Gedung Putih. Menurutnya, data yang dicuri dapat mendukung upaya mata-mata lainnya.

"Utilitas utamanya adalah untuk mengembangkan target potensial untuk pendekatan oleh agen intelijen atau memberi makan alat pembelajaran mesin kecerdasan buatan (artificial intelligence)," kata Daniel, yang saat ini menjabat sebagai presiden Cyber ‚Äč‚ÄčThreat Alliance, kelompok berbagi informasi keamanan siber.

Senator Ben Sasse, anggota Partai Republik dari Komite Pemilihan Senat untuk Intelijen, mendesak tindakan yang lebih keras untuk melawan peretasan China.

"Partai Komunis China tidak akan meninggalkan kebutuhan yang terlewat dalam usahanya untuk mencuri dan mengeksploitasi data Amerika. Dakwaan ini adalah berita baik, tetapi kita harus berbuat lebih banyak untuk melindungi data Amerika dari operasi pengaruh Partai Komunis China," katanya dalam sebuah pernyataan.

Pelanggaran data Equifax, karena begitu besar dan melibatkan begitu banyak informasi keuangan yang sensitif pada begitu banyak orang Amerika, memiliki implikasi yang luas bagi Equifax dan industri kredit konsumen.

Perusahaan setuju untuk membayar hingga USD700 juta untuk menyelesaikan klaim bahwa mereka melanggar hukum selama pelanggaran data dan untuk membayar kembali konsumen yang dirugikan.

Skandal itu membuat perusahaan kacau balau, yang menyebabkan mundurnya sang CEO saat itu, Richard Smith, dan berbagai audiensi Kongres ketika kelambatan perusahaan untuk mengungkapkan pelanggaran dan praktik keamanan dipersaolkan oleh anggota parlemen.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1195 seconds (11.97#12.26)