Sanksi Proyek Pipas Gas Rusia-Jerman Bentuk Politik Intimidasi AS

Selasa, 24 Desember 2019 - 03:57 WIB
Sanksi Proyek Pipas...
Sanksi Proyek Pipas Gas Rusia-Jerman Bentuk Politik Intimidasi AS
A A A
MOSKOW - Dengan menjatuhkan sanksi pada pembangunan pipa Nord Stream 2, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyebut bahwa Amerika Serikat (AS) menunjukkan diplomasi yang ditujukan untuk mengintimidasi lawan. Nord Stream 2 adalah proyek pipa gas Rusia dan Eropa.

Sanksi AS ini menargetkan kapal peletakan pipa untuk Nord Stream 2 dan TurkStream, pipa Rusia-Turki, dan termasuk pembekuan aset serta pencabutan visa AS untuk kontraktor. Salah satu kontraktor utama yang dapat dihantam adalah Allseas yang berbasis di Swiss, yang telah disewa oleh raksasa energi milik negara Rusia Gazprom untuk membangun bagian lepas pantai.

"AS sekali lagi menunjukkan bahwa diplomasi turun terutama ke intimidasi dengan berbagai metode yakni sanksi, ultimatum, dan ancaman," kata Lavrov dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Selasa (24/12/2019).

"Ketika sekutu terdekat dihukum karena memecahkan masalah ekonomi mereka, tugas yang berkaitan dengan keamanan energi, saya pikir tidak ada negara di dunia yang akan meragukan bahwa jika Amerika Serikat menjanjikan sesuatu kepada mereka, mereka akan ditinggalkan kapan saja," katanya.

Lavrov kemudian mengatakan, meski adanya sankti tersebut, Moskow dan Washington telah sukses memulihkan kerjasama konstruktif di berbagai bidang, salah satunya dalam bidang kontraterorisme.

"Kami telah menyatakan bahwa kerja sama normal telah pulih di berbagai bidang, meskipun ada beberapa di antaranya. Kami telah mengadakan dua putaran konsultasi tentang kontraterorisme, yang dimulai sejak lama tetapi ditangguhkan oleh administrasi (mantan Presiden AS) Barack Obama," ujarnya.

"Telah ada kontak antara utusan khusus di Afghanistan dalam format trilateral yang melibatkan China dan kadang-kadang Pakistan, yang akan terus berlanjut. Kami telah melakukan kontak di Suriah antara misi militer dan diplomatik kami," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
1 jam yang lalu
Minyak Mentah Brent...
Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
1 jam yang lalu
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
3 jam yang lalu
AS Rugi Besar akibat...
AS Rugi Besar akibat Serangan Iran di Seluruh Negara Arab
3 jam yang lalu
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
3 jam yang lalu
IRGC: Serangan Rudal...
IRGC: Serangan Rudal Iran Hancurkan Sistem Pertahanan THAAD, Patriot, dan C-RAM Amerika di Yordania
4 jam yang lalu
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved