Anggota Kongres Muslim AS Serukan Pelengseran 'Keparat', Trump Geram

Sabtu, 05 Januari 2019 - 10:38 WIB
Anggota Kongres Muslim...
Anggota Kongres Muslim AS Serukan Pelengseran 'Keparat', Trump Geram
A A A
WASHINGTON - Rashida Tlaib, politisi Muslim yang dilantik sebagai anggota Kongres Amerika Serikat (AS) membuat geram Presiden Donald Trump. Musababnya, politisi perempuan itu menyerukan seluruh warga "memakzulkan" pemimpin yang dia sebut "keparat".

Seruan politisi Demokrat asal Michigan itu dibuat beberapa jam setelah pelantikannya. Komentarnya itu tak hanya dikecam Presiden Trump, tapi juga para politisi terutama dari Partai Republik.

"Komentarnya memalukan," kata Trump pada hari Jumat waktu Washington dalam menanggapi seruan pemakzulan oleh Tlaib. "Saya pikir dia menghina dirinya sendiri dan menghina keluarganya," katanya lagi.

Liz Cheney, pemimpin baru Konferensi Partai Republik, mengecam komentar Tlaib. Menurutnya, Tlaib telah menampilkan tingkat vitriol yang tidak baik untuk negara.

Namun, Tlaib melawan berbagai kecaman tersebut. Melalui Twitter dia menulis; "Saya akan selalu berbicara kebenaran terhadap kekuasaan."

Dia menegaskan bahwa dirinya akan selalu berbicara jujur ​​kepada pihak yang berkuasa.

Juru bicara Tlaib, Denzel McCampbell, politisi 42 tahun itu, satu dari dua wanita Muslim yang terpilih duduk di Kongres AS."Terpilih untuk mengguncang Washington dan tidak akan tinggal diam," katanya.

Ketua Parlemen atau DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mengatakan dia tidak menyukai bahasa yang kotor. Namun, apa yang dilontarkan Tlaib tidak lebih buruk dari apa yang dikatakan Trump.

Pelosi mengatakan dirinya tidak akan menyensor apa yang dilontarkan kolega partainya.

Seruan pemakzulan Trump dengan ujaran kasar itu viral di media sosial. Banyak lawan politik Trump ikut membagikan video ucapan Tlaib di media sosial.

Pelosi mengatakan kepada USA Today yang dikutip Sabtu (5/1/2019) bahwa perlu ada dukungan bipartisan untuk pemakzulan pemimpin Amerika seperti yang diharapkan para lawan Trump yang berharap pada penyelidikan dugaan intervensi Rusia pada pemilu AS 2016. Hasil penyelidikan itu selama ini diharapkan para lawan Trump menjadi jalan bagi pemakzulan sang presiden.

"Jika ada alasan untuk melakukan impeachment terhadap Presiden Trump—dan saya tidak mencari alasan tersebut—itu harus jelas bipartisan dalam hal penerimaan (dukungan) sebelum saya pikir kita harus menempuh jalan impeachment," kata Pelosi.
(mas)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Donald Trump: Ukraina...
Donald Trump: Ukraina Sedang Dilenyapkan
Berita Terkini
Apakah Strategi Panas...
Apakah Strategi Panas dan Dingin yang dilakukan Trump untuk Menekan Iran Bisa Sukses?
28 menit yang lalu
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
1 jam yang lalu
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
4 jam yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
5 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
6 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
7 jam yang lalu
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved