India Butuhkan Dana untuk Rekonstruksi Rp20,9 Triliun
Kamis, 23 Agustus 2018 - 11:26 WIB
India Butuhkan Dana untuk Rekonstruksi Rp20,9 Triliun
A
A
A
NEW DELHI - Pemerintah Negara Bagian Kerala, India membutuhkan dana lebih dari 100 miliar rupee (Rp20,9 triliun) untuk memperbaiki infrastruktur dan bangunan yang rusak akibat banjir.
Musibah itu menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi. Proposal itu merupakan bagian dari paket khusus yang akan diajukan Pemerintah Kerala ke Pemerintah Pusat India guna memulihkan kondisi di lokasi terdampak banjir. Hal itu dibenarkan Kepala Menteri Kerala Pinarayi Vijayan.
Kerala mengalami kerugian 200 miliar rupee sejak wilayah selatan India itu diguyur hujan deras pada 8 Agustus. Pemerintah Kerala akan meminta bantuan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi untuk menaikkan plafon pinjaman dari 3% menjadi 4,5% per Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kami tidak hanya ingin memulihkan Kerala pascabanjir, tapi juga membangun Kerala yang baru,” kata Vijayan seperti dikutip Reuters. Musibah banjir di Kerala merupakan banjir terburuk dalam 100 tahun terakhir.
Sedikitnya 400 orang tewas dan sekitar 1,3 juta orang tinggal di ribuan kamp pengungsian. Puluhan ribu rumah juga rusak. Upaya penyelamatan dihentikan dan diganti dengan penyaluran bantuan makanan, airbersih, danobat-obatan. Lebih dari 3.000 warga di wilayah pelosok memprotes sikap petugas yang dianggap apatis.
Warga Nelliyampathy, bukit perkampungan yang terisolasi dari daerah lain setelah satusatunya jalan raya di sana rusak berat, menuduh petugas menghalangi warga lokal dan luar yang membawa bantuan makanan.
Sebagian jalan raya di daerah terdampak tidak dapat diakses karena terhalang pohon-pohon besar yang tumbang. Bantuan makanan harus diangkut menggunakan transportasi udara ke titik tertentu. Teknisi yang membantu merekonstruksi jalan itu mengatakan perbaikan akan memerlukan waktu sedikitnya empat hari.
“Komunikasi dengan wilayah lain terputus karena tidak ada jaringan bergerak, perwakilan pemerintah juga tidak muncul, bahkan warga di sini tidak diperbolehkan lagi membawa makanan dari luar,” kata K Girija, wakil kepala desa Nelliyampathy.
Dia menambahkan, utusan desa ke pemerintah juga pulang dengan tangan kosong. Kementerian Kehutanan menolak memberikan komentar terkait larangan membawa atau memasukkan bantuan makanan di Nelliyampathy.
Namun, pemerintah mengirimkan bantuan makanan menggunakan tiga helikopter pada Selasa (21/8). Perempuan hamil dan orang sakit juga ikut diangkut via transportasi udara. Pemerintah federal mengklasifikasikan banjir ini sebagai bencana alam yang buruk dan berkomitmen mengeluarkan dana bantuan senilai 6 miliar rupee.
Menteri Pangan Ram Vilas Paswan dan Menteri Kesehatan JP Nadda mengatakan pemerintah akan menyediakan bantuan makanan, obat-obatan, dan disinfektan. Pemerintah Federal telah mengirimkan obat-obatan dan tablet penjernih air. Sejauh ini, tidak ada penyakit menular yang mewabah di lokasi terdampak banjir.
Uni Emirates Arab (UEA) berencanamemberikanbantuan sebesar 7 miliar rupee. “Kerala memiliki hubungan spesial dengan UEA,” tandas Vijayan. Jumlah ekspatriat etnis keturunan Kerala di beberapa negara Teluk diyakini cukup besar.
Sejak 1960-an, remitansi dari negara Teluk menjadi tulang punggung ekonomi Kerala, yakni mencapai 1/3 dari total PDB. Untuk mengantisipasi bencana, pemerintah India akan memasang pusat peringatan cuaca di Kerala.
Musibah itu menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi. Proposal itu merupakan bagian dari paket khusus yang akan diajukan Pemerintah Kerala ke Pemerintah Pusat India guna memulihkan kondisi di lokasi terdampak banjir. Hal itu dibenarkan Kepala Menteri Kerala Pinarayi Vijayan.
Kerala mengalami kerugian 200 miliar rupee sejak wilayah selatan India itu diguyur hujan deras pada 8 Agustus. Pemerintah Kerala akan meminta bantuan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi untuk menaikkan plafon pinjaman dari 3% menjadi 4,5% per Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kami tidak hanya ingin memulihkan Kerala pascabanjir, tapi juga membangun Kerala yang baru,” kata Vijayan seperti dikutip Reuters. Musibah banjir di Kerala merupakan banjir terburuk dalam 100 tahun terakhir.
Sedikitnya 400 orang tewas dan sekitar 1,3 juta orang tinggal di ribuan kamp pengungsian. Puluhan ribu rumah juga rusak. Upaya penyelamatan dihentikan dan diganti dengan penyaluran bantuan makanan, airbersih, danobat-obatan. Lebih dari 3.000 warga di wilayah pelosok memprotes sikap petugas yang dianggap apatis.
Warga Nelliyampathy, bukit perkampungan yang terisolasi dari daerah lain setelah satusatunya jalan raya di sana rusak berat, menuduh petugas menghalangi warga lokal dan luar yang membawa bantuan makanan.
Sebagian jalan raya di daerah terdampak tidak dapat diakses karena terhalang pohon-pohon besar yang tumbang. Bantuan makanan harus diangkut menggunakan transportasi udara ke titik tertentu. Teknisi yang membantu merekonstruksi jalan itu mengatakan perbaikan akan memerlukan waktu sedikitnya empat hari.
“Komunikasi dengan wilayah lain terputus karena tidak ada jaringan bergerak, perwakilan pemerintah juga tidak muncul, bahkan warga di sini tidak diperbolehkan lagi membawa makanan dari luar,” kata K Girija, wakil kepala desa Nelliyampathy.
Dia menambahkan, utusan desa ke pemerintah juga pulang dengan tangan kosong. Kementerian Kehutanan menolak memberikan komentar terkait larangan membawa atau memasukkan bantuan makanan di Nelliyampathy.
Namun, pemerintah mengirimkan bantuan makanan menggunakan tiga helikopter pada Selasa (21/8). Perempuan hamil dan orang sakit juga ikut diangkut via transportasi udara. Pemerintah federal mengklasifikasikan banjir ini sebagai bencana alam yang buruk dan berkomitmen mengeluarkan dana bantuan senilai 6 miliar rupee.
Menteri Pangan Ram Vilas Paswan dan Menteri Kesehatan JP Nadda mengatakan pemerintah akan menyediakan bantuan makanan, obat-obatan, dan disinfektan. Pemerintah Federal telah mengirimkan obat-obatan dan tablet penjernih air. Sejauh ini, tidak ada penyakit menular yang mewabah di lokasi terdampak banjir.
Uni Emirates Arab (UEA) berencanamemberikanbantuan sebesar 7 miliar rupee. “Kerala memiliki hubungan spesial dengan UEA,” tandas Vijayan. Jumlah ekspatriat etnis keturunan Kerala di beberapa negara Teluk diyakini cukup besar.
Sejak 1960-an, remitansi dari negara Teluk menjadi tulang punggung ekonomi Kerala, yakni mencapai 1/3 dari total PDB. Untuk mengantisipasi bencana, pemerintah India akan memasang pusat peringatan cuaca di Kerala.
(don)