Ilmuwan Berhasil Temukan Warna Tertua di Dunia

Selasa, 10 Juli 2018 - 14:26 WIB
Ilmuwan Berhasil Temukan...
Ilmuwan Berhasil Temukan Warna Tertua di Dunia
A A A
CANBERRA - Para ilmuwan telah menemukan apa yang mereka katakan sebagai warna biologis tertua di dunia. Warna tersebut berasal dari bebatuan kuno di bawah gurun Sahara.

Pigmen berumur 1,1 miliar tahun itu memiliki warna merah muda yang cerah, namun bentuk konsentrasi mereka berkisar dari warna merah darah hingga ungu.

Para ilmuwan Australia mengatakan pigmen itu berasal dari molekul fosil klorofil yang dihasilkan oleh organisme laut. Para peneliti menggiling batu serpih menjadi serbuk untuk mengekstrak pigmen tersebut.

"Bayangkan Anda bisa menemukan fosil kulit dinosaurus yang masih memiliki warna asli, hijau atau biru ... itulah jenis penemuan yang kami buat," kata Prof Jochen Brocks dari Australian National University (ANU) seperti dikutip dari BBC, Selasa (10/7/2018).

"Ini adalah molekul yang sebenarnya, molekul berwarna tertua di dunia. Ketika dipegang dihadapkan pada sinar matahari, mereka sebenarnya adalah neon pink," jelasnya.

Mahasiswa PhD ANU, Dr Nur Gueneli, menemukan pigmen tersebut setelah menjalankan pelarut organik melalui bubuk batu. Brocks mengatakan proses ekstraksinya mirip dengan mesin kopi.

"Saya mendengar dia berteriak di lab ketika keluar, dan dia berlari ke kantor saya," kata asisten Prof Brocks.

"Pada awalnya saya pikir itu telah terkontaminasi. Sungguh menakjubkan bahwa sesuatu dengan warna biologis dapat bertahan untuk waktu yang lama," imbuhnya.

Sebuah perusahaan pertambangan telah menemukan bebatuan dalam deposit serpih laut di Cekungan Taoudeni di Mauritania, Afrika Barat sekitar 10 tahun yang lalu, setelah pengeboran lubang beberapa ratus meter, katanya.

Analisis pigmen menemukan mereka telah diproduksi oleh cyanobacteria di laut pada saat itu. Profesor Brocks mengatakan temuan ini berkontribusi pada pemahaman tentang evolusi bentuk kehidupan di Bumi.

"Cyanobacteria kecil mendominasi dasar rantai makanan di lautan satu miliar tahun yang lalu, yang membantu menjelaskan mengapa hewan tidak ada pada saat itu," katanya.

"Hidup hanya menjadi lebih besar sekitar 600 juta tahun yang lalu karena sebelumnya tidak ada sumber makanan yang cukup," imbuhnya.

Penelitian ini, yang juga melibatkan para ilmuwan di AS dan Jepang, telah diterbitkan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Science, Amerika Serikat.
(ian)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Kemampuan Rudal China...
Kemampuan Rudal China Melesat, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Pertahanan Misil
Berita Terkini
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
29 menit yang lalu
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
1 jam yang lalu
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
2 jam yang lalu
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
3 jam yang lalu
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
4 jam yang lalu
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
5 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved