Kim Jong-pil, Eks PM Sekaligus Pendiri Mata-mata Korsel Meninggal
Sabtu, 23 Juni 2018 - 12:06 WIB
Kim Jong-pil, Eks PM Sekaligus Pendiri Mata-mata Korsel Meninggal
A
A
A
SEOUL - Kim Jong-pil, mantan Perdana Menteri (PM) Korea Selatan (Korsel) selama dua periode, meninggal pada usia 92 tahun pada hari Sabtu (23/6/2018). Dia juga dikenal sebagai pendiri badan mata-mata Korea Selatan.
Sepak terjangnya di panggung politik dan dunia intelijen membuatnya dijuluki sebagai "manusia abadi nomor 2".
Kim dipindahkan dari rumahnya ke Soonchunhyang University Hospital di Seoul dan dinyatakan meninggal pada saat tiba sekitar pukul 08.15 pagi. Menurut pihak rumah sakit, yang dilansir The Korea Herald, Kim Jong-pil meninggal karena komplikasi dan faktor usia.
Situs pemakaman telah didirikan di Asan Medical Centre di Songpa-gu di Seoul selatan. Jenazahnya akan dimakamkan di kampung halamannya di Buyeo County di Provinsi Chungcheong Selatan.
Lahir pada 1926, Kim lulus dari Akademi Militer Korea dan memainkan peran kunci dalam kudeta militer tahun 1961 yang membawa Mayor Jenderak Park Chung-hee ke tampuk kekuasaan. Park memerintah negara itu sebagai presiden selama 18 tahun hingga akhirnya dibunuh pada 1979.
Selama masa pemerintahan Park, Kim mendirikan dan memimpin Korean Central Intelligence Agency (Badan Intelijen Pusat Korea), pendahulu dari National Intelligence Service (NIS, badan intelijen Korsel saat ini).
Selain menjadi mata-mata top, Kim Jong-pil juga pernah berkuasa sebagai Perdana Menteri Korsel selama dua periode. Yakni, periode 1971-1975 dan periode 1998-2000.
Dia dianggap sebagai salah satu politisi paling berpengaruh Korea Selatan pada 1980-an dan 1990-an. Dia menjadi salah satu dari "tiga Kim" yang mendominasi politik lokal bersama dengan mantan Presiden Kim Young-sam dan Kim Dae-jung.
Setelah pembunuhan Park, junta militer baru yang dipimpin oleh Jenderal Chun Doo-hwan merebut kekuasaan melalui "kudeta balasan" pada tahun 1979. Kim Jong-pil kemudian diasingkan ke AS setelah dituduh korupsi dan dipaksa menyerahkan sebagian besar asetnya.
Kim Jong-pil kembali ke politik Korea Selatan setelah Chun ditekan oleh serangkaian demonstrasi massa yang terus-menerus untuk demokrasi. Demo besar itu memungkinkan pemilihan presiden secara langsung dan bebas untuk pertama kali di Korea Selatan pada tahun 1987.
Pada tahun itu, Kim Jong-pil mendirikan partai konservatifnya sendiri dan ikut pemilu tahun 1987 melawan mantan kolega militer Chun, Roh Tae-woo dan dua calon oposisi; Kim Dae-jung dan Kim Young-sam.
Roh memenangkan pemilu karena suara oposisi terpecah. Kim Jong-pil saat itu menempati posisi keempat dalam pemilu. Dan di tahun-tahun mendatang, Kim mendominasi politik lokal.
Sepak terjangnya di panggung politik dan dunia intelijen membuatnya dijuluki sebagai "manusia abadi nomor 2".
Kim dipindahkan dari rumahnya ke Soonchunhyang University Hospital di Seoul dan dinyatakan meninggal pada saat tiba sekitar pukul 08.15 pagi. Menurut pihak rumah sakit, yang dilansir The Korea Herald, Kim Jong-pil meninggal karena komplikasi dan faktor usia.
Situs pemakaman telah didirikan di Asan Medical Centre di Songpa-gu di Seoul selatan. Jenazahnya akan dimakamkan di kampung halamannya di Buyeo County di Provinsi Chungcheong Selatan.
Lahir pada 1926, Kim lulus dari Akademi Militer Korea dan memainkan peran kunci dalam kudeta militer tahun 1961 yang membawa Mayor Jenderak Park Chung-hee ke tampuk kekuasaan. Park memerintah negara itu sebagai presiden selama 18 tahun hingga akhirnya dibunuh pada 1979.
Selama masa pemerintahan Park, Kim mendirikan dan memimpin Korean Central Intelligence Agency (Badan Intelijen Pusat Korea), pendahulu dari National Intelligence Service (NIS, badan intelijen Korsel saat ini).
Selain menjadi mata-mata top, Kim Jong-pil juga pernah berkuasa sebagai Perdana Menteri Korsel selama dua periode. Yakni, periode 1971-1975 dan periode 1998-2000.
Dia dianggap sebagai salah satu politisi paling berpengaruh Korea Selatan pada 1980-an dan 1990-an. Dia menjadi salah satu dari "tiga Kim" yang mendominasi politik lokal bersama dengan mantan Presiden Kim Young-sam dan Kim Dae-jung.
Setelah pembunuhan Park, junta militer baru yang dipimpin oleh Jenderal Chun Doo-hwan merebut kekuasaan melalui "kudeta balasan" pada tahun 1979. Kim Jong-pil kemudian diasingkan ke AS setelah dituduh korupsi dan dipaksa menyerahkan sebagian besar asetnya.
Kim Jong-pil kembali ke politik Korea Selatan setelah Chun ditekan oleh serangkaian demonstrasi massa yang terus-menerus untuk demokrasi. Demo besar itu memungkinkan pemilihan presiden secara langsung dan bebas untuk pertama kali di Korea Selatan pada tahun 1987.
Pada tahun itu, Kim Jong-pil mendirikan partai konservatifnya sendiri dan ikut pemilu tahun 1987 melawan mantan kolega militer Chun, Roh Tae-woo dan dua calon oposisi; Kim Dae-jung dan Kim Young-sam.
Roh memenangkan pemilu karena suara oposisi terpecah. Kim Jong-pil saat itu menempati posisi keempat dalam pemilu. Dan di tahun-tahun mendatang, Kim mendominasi politik lokal.
(mas)