Obama Sindir Trump Soal Penggunaan Media Sosial
Rabu, 27 Desember 2017 - 16:13 WIB
Obama Sindir Trump Soal Penggunaan Media Sosial
A
A
A
LONDON - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memperingatkan terhadap penggunaan media sosial (medsos) yang tidak bertanggung jawab. Hal itu diungkapkannya dalam sebuah wawancara langka sejak lengser pada bulan Januari lalu.
Obama menyatakan hal tersebut saat di wawancara oleh Pangeran Harry dalam sebuah program televisi. Pangeran Harry adalah salah satu dari beberapa tokoh terkemuka yang menjadi editor tamu dalam program tersebut selama Natal.
Dalam kesempatan itu, Obama memperingatkan bahwa tindakan penggunaan medsos yang tidak bertanggung jawab mendistorsi pemahaman masyarakat tentang isu-isu kompleks, dan menyebarkan informasi yang keliru.
Obama mengatakan bahwa mereka yang berada dalam posisi berkuasa harus berhati-hati saat mengirim pesan. Ia juga memperingatkan bahwa medos mendistorsi wacana sipil.
Lebih jauh, Obama mengungkapkan keprihatinannya tentang masa depan di mana fakta-fakta dibuang dan orang hanya membaca dan mendengarkan hal-hal yang memperkuat pandangan mereka sendiri.
"Salah satu bahaya internet adalah bahwa orang dapat memiliki realitas yang sama sekali berbeda. Mereka dapat terlindungi dalam informasi yang memperkuat bias mereka saat ini," tutur Obama.
"Pertanyaannya berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan teknologi ini dengan cara yang memungkinkan banyak sekali suara, memungkinkan keragaman pandangan, namun tidak mengarah pada Balkanisasi masyarakat dan memungkinkan cara menemukan landasan bersama," jelasnya seperti dikutip dari BBC, Rabu (27/12/2017).
Obama tidak menyebutkan nama dalam wawancara itu, namun sosok yang menggantikannya sebagai presiden AS yaitu Donald Trump adalah pengguna Twitter yang produktif.
Trump telah dituduh terlalu banyak menggunakan Twitter, meskipun ia membela diri dengan mengatakan hal itu memungkinkannya untuk terhubung langsung dengan warga Amerika.
Saat menyerahkan kekuasaan kepada Trump, Obama menggambarkan perasaan campur aduk, mengingat semua pekerjaan yang masih belum selesai.
"Kekhawatiran tentang bagaimana negara bergerak maju tapi, Anda tahu, secara keseluruhan ada ketenangan di sana," tambahnya.
Sama seperti layaknya editor tamu, Pangeran Harry melakukan sendiri wawancaranya.
"Saya belum banyak melakukan wawancara tapi cukup menyenangkan, terutama mewawancarai presiden Obama meski dia ingin mewawancarai saya," katanya.
"Ini adalah kurva belajar yang besar, tapi juga topik yang sangat penting yang perlu dipikirkan dan perlu dibahas," imbuhnya.
Program pangeran Harry berfokus pada isu-isu seperti angkatan bersenjata, kesehatan mental, kejahatan remaja dan perubahan iklim.
Obama menyatakan hal tersebut saat di wawancara oleh Pangeran Harry dalam sebuah program televisi. Pangeran Harry adalah salah satu dari beberapa tokoh terkemuka yang menjadi editor tamu dalam program tersebut selama Natal.
Dalam kesempatan itu, Obama memperingatkan bahwa tindakan penggunaan medsos yang tidak bertanggung jawab mendistorsi pemahaman masyarakat tentang isu-isu kompleks, dan menyebarkan informasi yang keliru.
Obama mengatakan bahwa mereka yang berada dalam posisi berkuasa harus berhati-hati saat mengirim pesan. Ia juga memperingatkan bahwa medos mendistorsi wacana sipil.
Lebih jauh, Obama mengungkapkan keprihatinannya tentang masa depan di mana fakta-fakta dibuang dan orang hanya membaca dan mendengarkan hal-hal yang memperkuat pandangan mereka sendiri.
"Salah satu bahaya internet adalah bahwa orang dapat memiliki realitas yang sama sekali berbeda. Mereka dapat terlindungi dalam informasi yang memperkuat bias mereka saat ini," tutur Obama.
"Pertanyaannya berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan teknologi ini dengan cara yang memungkinkan banyak sekali suara, memungkinkan keragaman pandangan, namun tidak mengarah pada Balkanisasi masyarakat dan memungkinkan cara menemukan landasan bersama," jelasnya seperti dikutip dari BBC, Rabu (27/12/2017).
Obama tidak menyebutkan nama dalam wawancara itu, namun sosok yang menggantikannya sebagai presiden AS yaitu Donald Trump adalah pengguna Twitter yang produktif.
Trump telah dituduh terlalu banyak menggunakan Twitter, meskipun ia membela diri dengan mengatakan hal itu memungkinkannya untuk terhubung langsung dengan warga Amerika.
Saat menyerahkan kekuasaan kepada Trump, Obama menggambarkan perasaan campur aduk, mengingat semua pekerjaan yang masih belum selesai.
"Kekhawatiran tentang bagaimana negara bergerak maju tapi, Anda tahu, secara keseluruhan ada ketenangan di sana," tambahnya.
Sama seperti layaknya editor tamu, Pangeran Harry melakukan sendiri wawancaranya.
"Saya belum banyak melakukan wawancara tapi cukup menyenangkan, terutama mewawancarai presiden Obama meski dia ingin mewawancarai saya," katanya.
"Ini adalah kurva belajar yang besar, tapi juga topik yang sangat penting yang perlu dipikirkan dan perlu dibahas," imbuhnya.
Program pangeran Harry berfokus pada isu-isu seperti angkatan bersenjata, kesehatan mental, kejahatan remaja dan perubahan iklim.
(ian)