Moskow Sebut AS Coba Campur Tangan Dalam Pemilu Rusia
Rabu, 27 Desember 2017 - 15:31 WIB
Moskow Sebut AS Coba Campur Tangan Dalam Pemilu Rusia
A
A
A
MOSKOW - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova merespon komentar Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) terkait dengan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Zakharova menyebut komentar itu adalah gangguan langsung terhadap urusan dalam negeri Rusia dan upaya campur tangan dalam pemilu di Rusia.
Kemlu AS mengecam keputusan Komisi Pemilu Pusat Rusia (CEC) untuk tidak menerima dokumen dari tokoh Navalny, yang ingin mencalonkan diri sebagai Presiden dalam pemilu yang akan berlangsung tahun depan. Kemlu AS juga menyatakan keprihatinannya atas keputusan komisi tersebut yang menyebutnya sebagai tekanan terhadap kandidat independen.
"Pernyataan dari Kemlu AS, yang saya yakini tidak akan menjadi satu-satunya, gangguan langsung dalam pemilihan dan juga urusan dalam negeri Rusia," kata Zakharova, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (27/12).
Senin lalu, CEC menolak pendaftaran Navalny, karena tokoh opisisi Rusia itu saat ini memiliki status sebagai narapidana. Dia menerima hukuman lima tahun yang ditangguhkan pada bulan Februari karena melakukan penggelapan uang sebesar USD 247 ribu dari perusahaan kayu milik negara, KirovLes.
Menurut Undang-undang Rusia, siapapun yang dihukum karena kejahatan berat bisa maju dalam pemilihan Presiden hanya sepuluh tahun setelah dia bebas, atau setelah vonis terhadapnya dibatalkan.
Kemlu AS mengecam keputusan Komisi Pemilu Pusat Rusia (CEC) untuk tidak menerima dokumen dari tokoh Navalny, yang ingin mencalonkan diri sebagai Presiden dalam pemilu yang akan berlangsung tahun depan. Kemlu AS juga menyatakan keprihatinannya atas keputusan komisi tersebut yang menyebutnya sebagai tekanan terhadap kandidat independen.
"Pernyataan dari Kemlu AS, yang saya yakini tidak akan menjadi satu-satunya, gangguan langsung dalam pemilihan dan juga urusan dalam negeri Rusia," kata Zakharova, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (27/12).
Senin lalu, CEC menolak pendaftaran Navalny, karena tokoh opisisi Rusia itu saat ini memiliki status sebagai narapidana. Dia menerima hukuman lima tahun yang ditangguhkan pada bulan Februari karena melakukan penggelapan uang sebesar USD 247 ribu dari perusahaan kayu milik negara, KirovLes.
Menurut Undang-undang Rusia, siapapun yang dihukum karena kejahatan berat bisa maju dalam pemilihan Presiden hanya sepuluh tahun setelah dia bebas, atau setelah vonis terhadapnya dibatalkan.
(esn)