Myanmar Berusaha Hapus Semua Sejarah Rohingya

Minggu, 03 Desember 2017 - 10:33 WIB
A A A
Psikologis Sittwe pun telah menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Di sebuah bazar baru-baru ini, setiap penduduk Rakhine yang diajak bicara, mengklaim secara keliru, bahwa tidak ada seorang Muslim yang pernah memiliki toko di sana.

Sittwe University, yang biasa mendaftarkan ratusan siswa Muslim, sekarang hanya mengajar sekitar 30 Rohingya, semuanya berada dalam program pembelajaran jarak jauh.

"Kami tidak memiliki batasan terhadap agama apapun. Tapi mereka tidak datang," kata U Shwe Khaing Kyaw, administrasi universitas tersebut.

U Kyaw Min dulu mengajar di Sittwe, di mana sebagian besar muridnya adalah umat Buddha Rakhine. Sekarang, katanya, bahkan kenalannya yang beragama Buddha di Yangon merasa malu untuk berbicara dengannya.

"Mereka ingin percakapan segera berakhir karena mereka tidak ingin memikirkan siapa saya atau dari mana asalku," katanya.

Pada tahun 1990, Kyaw Min memenangkan kursi di Parlemen sebagai bagian dari partai Rohingya yang selaras dengan Liga Nasional untuk Demokrasi, partai pemerintahan Myanmar saat ini. Namun junta militer negara tersebut mengabaikan hasil pemilihan secara nasional. Kyaw Min berakhir di penjara.

Muslim Rohingya telah tinggal di Rakhine selama beberapa generasi, dialek Bengali dan Asia Selatan mereka sering membedakan mereka dari umat Buddha Rakhine.

Selama era kolonial, Inggris mendorong petani beras Asia Selatan, pedagang dan pegawai negeri sipil untuk bermigrasi ke tempat yang kemudian dikenal sebagai Birma.

Beberapa pendatang baru ini bercampur dengan Rohingya, yang kemudian dikenal lebih umum sebagai orang India Arakan atau Muslim Arakan. Yang lainnya tersebar di Burma. Pada tahun 1930-an, orang Asia Selatan, baik Muslim dan Hindu, terdiri dari populasi terbesar di Yangon.

Pergeseran demografis membuat beberapa umat Buddha merasa terkepung. Selama kepemimpinan xenophobia dari Jenderal Ne Win, yang mengantarkan hampir setengah abad pemerintahan militer, ratusan ribu orang Asia Selatan meninggalkan Burma ke India.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.0887 seconds (10.101#12.26)