Trump Hormati Kebijakan Satu China
Sabtu, 11 Februari 2017 - 20:58 WIB
Trump Hormati Kebijakan Satu China
A
A
A
BEIJING - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump berjanji menghormati kebijakan satu China sebagai fondasi utama hubungan diplomatik kedua negara.
Pemerintah China menyambut positif sikap Pemerintah AS tersebut. Sebelumnya pada Desember lalu, hubungan AS dan China sempat menegang akibat Trump menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Meski demikian, ketegangan itu kini mereda. Kedua kepala negara sepakat menghargai prinsip masingmasing negara.
“Sesuai permintaan Presiden China Xi Jinping, Presiden Trump sepakat untuk menghormati kebijakan satu China,” pernyataan Gedung Putih kemarin dikutip Reuters. Laporan itu dikeluarkan berdasarkan hasil komunikasi panjang antara Trump dan Xi melalui sambungan telepon pada Kamis (9/2) malam waktu AS atau siang waktu China.
Komunikasi melalui telepon ini hanya berselang beberapa jam sebelum Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe melawat ke AS. China mengaku ingin mem-bangun kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi, teknologi, infrastruktur, juga penguatan koordinasi dalam menangani isu internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Trump dan Xi baru kali ini melakukan kontak suara sejak 20 Januari silam. Seorang diplomat di Beijing mengatakan bahwa China sempat cemas komunikasi antara Xi dan Trump akan berakhir di luar harapan dan menyebar ke dunia internasional. Pekan lalu, panggilan telepon sengit antara Trump dan PM Australia Malcom Turnbull juga bocor ke media hingga memicu berbagai spekulasi pengamat.
Pemerintah Beijing dan Washington menyatakan, permasalahan mengenai kebijakan satu China sudah berhasil diselesaikan. Kedua negara bisa kembali menjalin hubungan yang lebih kuat.
“Perwakilan AS dan China akan menggelar diskusi dan negosiasi mengenai berbagai isu yang berkaitan dengan kepentingan kedua negara,” papar Gedung Putih.
Dalam keterangan terpisah yang disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Xi mengatakan, China mengapresiasi dukungan Trump dalam menopang kebijakan satu China. “Saya yakin AS dan China merupakan sahabat dekat. Melalui upaya bersama, kami bisa membangun hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi,” kata Xi.
Xi menambahkan, pembangunan di China dan AS tentu akan bisa saling melengkapi satu sama lain sehingga kedua negara dapat maju bersama. Dia yakin China dan AS akan menjadi mitra kerja sama yang sangat baik. Total perdagangan kedua negara pada 2016 mencapai USD578,6 juta. China surplus sekitar USD347 juta.
Penasihat Negara China Yang Jiechi berulang kali mengatakan hubungan dengan tim Trump tetap baik. Pekan lalu, Jiechi menegaskan kepada Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Flynn bahwa China berharap dapat menjalin kerja sama dengan AS dalam mengendalikan permasalahan sensitif dan sengketa wilayah.
Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan Taiwan Alex Huang juga menyambut baik pemulihan hubungan AS dan China sehingga hubungan kedua negara dengan Taiwan tetap kuat. “Pemerintah Taiwan dan AS tetap memiliki hubungan yang dekat dan komunikasi yang baik dengan memelihara pendekatan bebas konflik,” tandas Huang.
Ahli hukum James Zimmerman yang juga mantan Kepala Kamar Dagang Amerika di China menilai keputusan yang dikeluarkan Trump sudah tepat, meski sejak awal sebaiknya tidak menyinggung China. “Hasil akhir menunjukkan bahwa Trump hanya harimau kertas, mengancam, tapi tidak sanggup menghadapi akibatnya,” katanya.
Dekan Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Peking, Jia Qungguo, juga mengatakan, Trump menciptakan banyak ketidakpastian. Kendati demikian, sekarang semuanya pulih.
“Dia kini ingin meyakinkan bahwa dia akan menjadi presiden yang bertanggung jawab. Hubungan stabil akan menguntungkan kedua negara,” tandasnya.
Pemerintah AS memindahkan pengakuan diplomatik dari Taiwan menuju China pada 1979. Beijing mengklaim menguasai wilayah kedaulatan Taiwan, meski pemerintahannya dibiarkan terpisah. Di sisi lain, AS juga tetap menjadi sekutu terbesar Taiwan. Negeri Paman Sam itu sering mengirimkan sistem pertahanan dan persenjataan ke Taiwan.
Pemerintah China menyambut positif sikap Pemerintah AS tersebut. Sebelumnya pada Desember lalu, hubungan AS dan China sempat menegang akibat Trump menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Meski demikian, ketegangan itu kini mereda. Kedua kepala negara sepakat menghargai prinsip masingmasing negara.
“Sesuai permintaan Presiden China Xi Jinping, Presiden Trump sepakat untuk menghormati kebijakan satu China,” pernyataan Gedung Putih kemarin dikutip Reuters. Laporan itu dikeluarkan berdasarkan hasil komunikasi panjang antara Trump dan Xi melalui sambungan telepon pada Kamis (9/2) malam waktu AS atau siang waktu China.
Komunikasi melalui telepon ini hanya berselang beberapa jam sebelum Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe melawat ke AS. China mengaku ingin mem-bangun kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi, teknologi, infrastruktur, juga penguatan koordinasi dalam menangani isu internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Trump dan Xi baru kali ini melakukan kontak suara sejak 20 Januari silam. Seorang diplomat di Beijing mengatakan bahwa China sempat cemas komunikasi antara Xi dan Trump akan berakhir di luar harapan dan menyebar ke dunia internasional. Pekan lalu, panggilan telepon sengit antara Trump dan PM Australia Malcom Turnbull juga bocor ke media hingga memicu berbagai spekulasi pengamat.
Pemerintah Beijing dan Washington menyatakan, permasalahan mengenai kebijakan satu China sudah berhasil diselesaikan. Kedua negara bisa kembali menjalin hubungan yang lebih kuat.
“Perwakilan AS dan China akan menggelar diskusi dan negosiasi mengenai berbagai isu yang berkaitan dengan kepentingan kedua negara,” papar Gedung Putih.
Dalam keterangan terpisah yang disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Xi mengatakan, China mengapresiasi dukungan Trump dalam menopang kebijakan satu China. “Saya yakin AS dan China merupakan sahabat dekat. Melalui upaya bersama, kami bisa membangun hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi,” kata Xi.
Xi menambahkan, pembangunan di China dan AS tentu akan bisa saling melengkapi satu sama lain sehingga kedua negara dapat maju bersama. Dia yakin China dan AS akan menjadi mitra kerja sama yang sangat baik. Total perdagangan kedua negara pada 2016 mencapai USD578,6 juta. China surplus sekitar USD347 juta.
Penasihat Negara China Yang Jiechi berulang kali mengatakan hubungan dengan tim Trump tetap baik. Pekan lalu, Jiechi menegaskan kepada Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Flynn bahwa China berharap dapat menjalin kerja sama dengan AS dalam mengendalikan permasalahan sensitif dan sengketa wilayah.
Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan Taiwan Alex Huang juga menyambut baik pemulihan hubungan AS dan China sehingga hubungan kedua negara dengan Taiwan tetap kuat. “Pemerintah Taiwan dan AS tetap memiliki hubungan yang dekat dan komunikasi yang baik dengan memelihara pendekatan bebas konflik,” tandas Huang.
Ahli hukum James Zimmerman yang juga mantan Kepala Kamar Dagang Amerika di China menilai keputusan yang dikeluarkan Trump sudah tepat, meski sejak awal sebaiknya tidak menyinggung China. “Hasil akhir menunjukkan bahwa Trump hanya harimau kertas, mengancam, tapi tidak sanggup menghadapi akibatnya,” katanya.
Dekan Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Peking, Jia Qungguo, juga mengatakan, Trump menciptakan banyak ketidakpastian. Kendati demikian, sekarang semuanya pulih.
“Dia kini ingin meyakinkan bahwa dia akan menjadi presiden yang bertanggung jawab. Hubungan stabil akan menguntungkan kedua negara,” tandasnya.
Pemerintah AS memindahkan pengakuan diplomatik dari Taiwan menuju China pada 1979. Beijing mengklaim menguasai wilayah kedaulatan Taiwan, meski pemerintahannya dibiarkan terpisah. Di sisi lain, AS juga tetap menjadi sekutu terbesar Taiwan. Negeri Paman Sam itu sering mengirimkan sistem pertahanan dan persenjataan ke Taiwan.
(esn)