Lebih dari 12.000 Seruan Pembunuhan Menyasar Trump Sejak Dilantik
Sabtu, 04 Februari 2017 - 09:53 WIB
Lebih dari 12.000 Seruan Pembunuhan Menyasar Trump Sejak Dilantik
A
A
A
WASHINGTON - Sejak Donald Trump dilantik sebagai presiden Amerika Serikat (AS) 20 Januari 2017 sudah lebih dari 12.000 seruan pembunuhan ditujukan pada dirinya. Banyaknya seruan pembunuhan itu muncul di Twitter.
Angka itu berdasarkan data statistik situs Dataminr dengan kata kunci “assassinate Trump”. Dari ribuan seruan pembunuhan itu, salah satunya muncul dari pengguna media sosial Zachary Benton, 24, asal Ohio. Dia telah didakwa dengan tuduhan mengancam presiden AS.
”Diplomasi. F***ing bodoh. Saya benci Anda semua. Saya ingin mengebom setiap satu dari bilik suara Anda dan area umum Anda,” tulis Benton di Twitter.
Beberapa menit kemudian, dia menulis: ”Tujuan hidup saya adalah untuk membunuh Trump. Tidak peduli jika saya melayani vonis hukuman yang tak terbatas”.
Penyanyi Madonna juga sempat disorot media dengan ucapan provokatif saat aksi “Women’s March” di Washington DC. Madonna saat itu mengaku ingin meledakkan Gedung Putih.
Mantan agen Secret Service Tim Franklin mengatakan ancaman yang berulang-ulang akan menaikkan “bendera merah”, sebuah tanda bahaya bagi Presiden Trump.
Menurut Franklin, Secret Service cenderung membiarkan banyak pengguna media sosial yang membuat seruan pembunuhan terhadap Trump lolos. ”Mereka tidak akan mengalahkan semua orang yang membuat komentar negatif di Twitter,” katanya, seperti dikutip Mail Online, Sabtu (4/2/2017).
Sementara itu, menurut jajak penadapat Gallup, kurang dari 50 persen responden di AS tidak setuju ketika Donald Trump resmi berkantor di Gedung Putih sebagai presiden ke-45 AS.
Angka itu berdasarkan data statistik situs Dataminr dengan kata kunci “assassinate Trump”. Dari ribuan seruan pembunuhan itu, salah satunya muncul dari pengguna media sosial Zachary Benton, 24, asal Ohio. Dia telah didakwa dengan tuduhan mengancam presiden AS.
”Diplomasi. F***ing bodoh. Saya benci Anda semua. Saya ingin mengebom setiap satu dari bilik suara Anda dan area umum Anda,” tulis Benton di Twitter.
Beberapa menit kemudian, dia menulis: ”Tujuan hidup saya adalah untuk membunuh Trump. Tidak peduli jika saya melayani vonis hukuman yang tak terbatas”.
Penyanyi Madonna juga sempat disorot media dengan ucapan provokatif saat aksi “Women’s March” di Washington DC. Madonna saat itu mengaku ingin meledakkan Gedung Putih.
Mantan agen Secret Service Tim Franklin mengatakan ancaman yang berulang-ulang akan menaikkan “bendera merah”, sebuah tanda bahaya bagi Presiden Trump.
Menurut Franklin, Secret Service cenderung membiarkan banyak pengguna media sosial yang membuat seruan pembunuhan terhadap Trump lolos. ”Mereka tidak akan mengalahkan semua orang yang membuat komentar negatif di Twitter,” katanya, seperti dikutip Mail Online, Sabtu (4/2/2017).
Sementara itu, menurut jajak penadapat Gallup, kurang dari 50 persen responden di AS tidak setuju ketika Donald Trump resmi berkantor di Gedung Putih sebagai presiden ke-45 AS.
(mas)