Putin Disebut Terlibat Langsung dalam Serangan Cyber Pemilu AS
Kamis, 15 Desember 2016 - 09:45 WIB
Putin Disebut Terlibat Langsung dalam Serangan Cyber Pemilu AS
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Rusia, Vladimir Putin, disebut secara pribadi mengarahkan serangan cyber dalam pemilu Amerika Serikat (AS). Serangan cyber itu sebagai bagian dari "balas dendam" terhadap Hillary Clinton, menurut laporan terbaru dari NBC News.
Para pejabat intelijen AS mengatakan mereka memiliki "tingkat kepercayaan yang tinggi" bahwa Presiden Rusia mengambil alih bagaimana materi yang dicuri dari Demokrat akan dibocorkan. Para pejabat mengatakan mereka memiliki bukti kuat bahwa Putin terlibat, dan bahwa operasi itu tidak bisa berjalan tanpa otorisasi dari pemimpin paling senior dalam Kremlin.
Seorang pejabat mengatakan Putin telah termotivasi oleh "dendam" terhadap Hillary. Putin juga berharap bisa melemahkan kepercayaan dalam sistem politik AS di antara mitra-mitranya.
"Putin berharap untuk memisahkan diri sekutu kunci Amerika dengan menciptakan gambar negara lain tidak bisa bergantung pada AS untuk menjadi pemimpin global yang kredibel lagi," kata sumber itu kepada NBC seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (15/12/2016).
Sebelumnya, pejabat CIA mengatakan Rusia melakukan intervensi dalam pemilu untuk membantu Donald Trump. Namun Trump menyebut jika laporan tersebut konyl dan menegaskan bahwa tidak ada bukti mengikat Rusia telah meretas meskipun hal itu bertentangan dengan keyakinan dari 17 badan intelijen AS.
Baik pejabat Demokrat dan Republik telah menyerukan penyelidikan peran Rusia dalam dugaan tersebut, dan beberapa telah menyatakan keprihatinan atas sikap Trump. Trump telah mengambil sikap bertentangan dengan badan-badan intelijen AS, dan telah menerima briefing intelijen jauh lebih sering daripada pendahulunya.
Para pejabat intelijen AS mengatakan mereka memiliki "tingkat kepercayaan yang tinggi" bahwa Presiden Rusia mengambil alih bagaimana materi yang dicuri dari Demokrat akan dibocorkan. Para pejabat mengatakan mereka memiliki bukti kuat bahwa Putin terlibat, dan bahwa operasi itu tidak bisa berjalan tanpa otorisasi dari pemimpin paling senior dalam Kremlin.
Seorang pejabat mengatakan Putin telah termotivasi oleh "dendam" terhadap Hillary. Putin juga berharap bisa melemahkan kepercayaan dalam sistem politik AS di antara mitra-mitranya.
"Putin berharap untuk memisahkan diri sekutu kunci Amerika dengan menciptakan gambar negara lain tidak bisa bergantung pada AS untuk menjadi pemimpin global yang kredibel lagi," kata sumber itu kepada NBC seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (15/12/2016).
Sebelumnya, pejabat CIA mengatakan Rusia melakukan intervensi dalam pemilu untuk membantu Donald Trump. Namun Trump menyebut jika laporan tersebut konyl dan menegaskan bahwa tidak ada bukti mengikat Rusia telah meretas meskipun hal itu bertentangan dengan keyakinan dari 17 badan intelijen AS.
Baik pejabat Demokrat dan Republik telah menyerukan penyelidikan peran Rusia dalam dugaan tersebut, dan beberapa telah menyatakan keprihatinan atas sikap Trump. Trump telah mengambil sikap bertentangan dengan badan-badan intelijen AS, dan telah menerima briefing intelijen jauh lebih sering daripada pendahulunya.
(ian)