Timur Tengah

Menguak tradisi pengantin anak di Yaman

Minta cerai, gadis Yaman 10 tahun sempat kejutkan dunia

Rabu,  31 Juli 2013  −  15:10 WIB
Minta cerai, gadis Yaman 10 tahun sempat kejutkan dunia
Nada al-Ahdal, bocah Yaman yang menolak dinikahkan (CNN)

Sindonews.com – Sebelum heboh pengakuan gadis Yaman, Nada al-Ahdal, 11, dalam video di Youtube yang mengaku kabur karena menolak dinikahkan, tahun 2008 pernah ada kejadian yang mengejutkan dunia. Kala itu, Nujood Ali, 10 tahun mengajukan cerai ke pengadilan.
 
Hakim pengadilan di Sanaa yang kaget, dengan keberanian bocah 10 tahun itu, akhirnya mengabulkan permintaanya. Menurut Organisasi Hak Asasasi Manusia, Nujood Ali menjadi pahlawan bagi mereka yang mencoba untuk meningkatkan kesadaran warga Yaman yang masih melestarikan tradisi “pengantin anak”.
 
Kasus pernikahan belia yang dialami Nujood Ali, juga mengoyak tradisi konservatif di negara itu, yang tetap menjalankan pernikahan gadis-gadis sebelum usia 18 tahun.
 
Sejak itu, pada tahun 2009 Parlemen Yaman mengesahkan undang-undang menaikkan usia minimum pernikahan gadis Yaman menjadi 17 tahun. Tapi, lagi-lagi anggota parlemen dari kubu konservatif berpendapat, keputusan itu melanggar hukum Islam, yang tidak menetapkan usia minimal untuk menikah. Mereka pun menolak menandatangani UU pernikahan itu.
 
Hebohnya video pengakuan Nada, juga menunjukkan masih langgengnya tradisi pernikahan anak di bawah umur di Yaman. Hind al-Eryani, wartawan Yaman, yang mewawancarai Nada, menyebut, tradisi pengantin anak di Yaman adalah masalah yang mengerikan. Tradisi itu berjalan dari tahun ke tahun dan mengakar kuat, karena kaum konservatif mengklaim tradisi itu sesuai perintah agama.
 
”Ini lebih umum terjadi di masyarakat miskin," kata al-Eryani, seperti dikutip CNN, Rabu (31/7/2013). Di Yaman, seperti pengakuan Nada, anak-anak dinikahkan, salah satu motifnya karena alasan ekonomi.


(esn)

views: 3.307x
shadow