Asia Pasifik

Perlombaan senjata dimulai

Koran SINDO

Minggu,  17 Februari 2013  −  14:27 WIB
Perlombaan senjata dimulai
Militer korea Utara (endthelie.com)

Sindonews.com - Kesiapsiagaan militer negara tetangga Korea Utara (Korut) kian meningkat sejak uji coba nuklir ketiga. Jepang dan Korea Selatan selalu memantau perkembangan perbatasan Korut setiap detik dan menit. Mereka juga meminta perubahan kebijakan pertahanan dalam pakta pertahanan dengan Amerika Serikat (AS).

Berbagai teknologi canggih militer pun disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Negara yang paling khawatir dengan Korut adalah Korsel. Setelah perang Korea yang berlangsung 25 Juni 1950–27 Juli 1953 itu, tidak ada perjanjian antara kedua negara yang menyatakan diakhirinya perang. Jadi, kedua negara hingga saat ini masih berstatus perang. Militer Korsel meningkatkan kewaspadaan sejak Pyongyang menggelar uji coba nuklir pertama pada 2006 dan dilanjutkan pada 2009.

Korsel juga mengumumkan mengenai penempatan rudal baru yang mampu menghantam wilayah Korut di manapun dan kapan pun. Apalagi, Seoul menegaskan rudal terbaru itu sangat akurat dan dapat menargetkan jendela pada sebuah gedung pemerintahan Korut. Bahkan,Korsel menyatakan kalau rudal baru itu memiliki kekuatan destruktif yang sangat mematikan yang dapat menghancurkan kantor pusat musuh dan menghentikan aktivitas selama perang. Jepang juga tak kalah khawatir.

Tokyo mengemukakan usulan kalau mereka memiliki hak mengembangkan kemampuan untuk membuat serangan pencegahan (pre-emptive) terhadap serangan yang menargetkan negara itu.Kekhawatiran Negeri Sakura itu sangat masuk akal setelah Korut melaksanakan uji coba nuklir. Jepang ingin memperkuat pertahanan rudal balistik karena ancaman yang sangat nyata dari Korut. Sebenarnya parameter Jepang dan Korsel dalam mengembangkan senjata adalah Korut. Meskipun kedua negara itu terikat dalam pakta pertahanan dengan AS, mereka juga tidak mau hanya bergantung pada Washington. Mereka tetap mengembangkan dan memperkuat pertahanannya.

Iran di belakang Korut?


Sementara tak dapat dipungkiri, jika Korut tak mungkin berdiri sendiri ketika sukses menjalankan uji coba nuklir. Pertanyaan kini, siapa yang membantu Korut? China? Tak mungkin karena Beijing dalam posisi menjauhi Pyongyang. Teheran? Bisa jadi karena ada laporan yang menyebutkan keterlibatan beberapa pakar nuklir Iran dan eratnya hubungan kedua negara tersebut.

Seperti dalam analisis 38 North,Institut Korea-AS di Kajian Internasional, John Hopkins, Baltimore,menyebutkan ada keterlibatan Iran dalam program nuklir Korut. Itu berdasarkan analisis gambar visual yang diambil dari satelit. “Aktivitas di sekitar tempat peluncuran baru juga mengungkapkan kemungkinan keterlibatan bantuan dari Iran. Dua desain baru ini disebut mirip dengan yang digunakan di Kompleks Peluncuran Semnan di Iran.Fasilitas baru itu belum pernah digunakan oleh Korut sebelumnya,” demikian analisis 38 North.

Terus ada dugaan kalau Korut telah menjadi “laboratorium” Iran.Ketika Iran tidak dapat melakukan uji coba nuklir karena terus dipantau oleh AS dan sekutunya di Timur Tengah, Teheran diduga mengalihkan uji coba nuklirnya ke Pyongyang. Apalagi, Israel menduga ada kemungkinan Iran berada di balik uji coba nuklir Korut. Iran dituduh Israel menggunakan Korut untuk menguji nuklir yang dikembangkannya. “Iran tidak melakukan uji coba nuklir di negaranya sendiri, tapi mereka mungkin melakukannya di Korut,”ujar ahli pertahanan dari Universitas Bar- Ilan,Alon Levkowitz,seperti dikutip Jerusalem Post.

“Iran dan Korut sudah melakukan kerja sama nuklir sejak tahun 1980- an. Korut sempat membantu mengembangkan reaktor nuklir di Suriah yang merupakan sekutu dari Iran.” Sampai saat ini tidak diketahui apakah tes nuklir Korut menggunakan bahan plutonium atau uranium yang diperkaya. Jika Korut terbukti memakai uranium, kecurigaan akan campur tangan Iran dalam uji coba nuklir Korut menjadi semakin besar.

Program nuklir Korut sebagian besar dijalankan dengan bahan plutonium, sedangkan program nuklir Iran dijalankan dengan menggunakan bahan uranium yang diperkaya. Selain bekerja sama dalam pengembangan nuklir,peneliti Iran juga disebut ikut membantu pengembangan teknologi roket yang dimiliki oleh Korut.

Media Korsel sempat melaporkan pejabat militer Iran ikut menyaksikan uji coba roket Korut yang berakhir gagal pada April 2012. Pihak Iran sendiri merespons uji coba nuklir Korut dengan ajakan untuk memusnahkan seluruh senjata nuklir yang ada di dunia.

 

(esn)

shadow