
Yesi Syelvia
Sindonews.com – Kontroversi film "Innocence of Muslims" yang dihujat umat Muslim seantero dunia belum berakhir. Hari ini, sebuah majalah Prancis, Charlie Hebdo, menambah panas suasana dengan menerbitkan sosok yang menyerupai Nabi Muhammad dalam gambar kartun.
Presiden Dewan Muslim Prancis, Mohammed Moussaoui, marah atas tindakan phobia Islam itu kepada TV BFM. ’’Kartun tersebut ditujukan untuk menghina Nabi Muhammad, sementara publikasinya ditujukan untuk menyulut provokasi baru,”kata Moussaoui.
Sejauh ini, kemunculan kartun tersebut telah mengundang kecaman kuat dari komunitas muslim Prancis. Sementara itu, Direktur majalah Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, mengatakan apa yang dilakukan stafnya tidak benar-benar memicu api permusuhan. Dia berdalih hanya menggunakan kebebasan untuk berekspresi dan mengomentari sejumlah berita dengan menggunakan sindiran.
’’Menyikapi berita pekan ini mengenai Nabi Muhammad dan film jelek itu, kami menggambar kartun subyek ini," ungkap Charbonnier seperti diberitakan CNN, Rabu (19/9/2012).
Kemunculan film ini dianggap aneh karena mengolok-olok Nabi Muhammad yang menjadi tauladan umat Muslim. Film aneh yang dimaksud oleh Charbonnier adalah film Innocence of Muslims. Dalam cuplikan film berdurasi 14 menit tersebut, sosok Nabi Muhammad digambarkan sebagai sosok penganiaya, pembunuh, dan lelaki hidung belang.
Umat muslim mengangap pengambaran sosok nabi Muhammad sebagai sebuah tindakan penghinaan. Sementara sang jurnalis majalah Charlie Hebdo, Laurent Leger mengatakan kartun tersebut menggambarkan sosok lelaki muslim dan seorang muslim ekstrimis.
Tapi majalah Charlie Hebdo tidak secara blak-blakan menyebut kartun tersebut adalah Nabi Muhammad. Lebih lanjut Leger mengatakan sosok kartun bisa diartikan siapa saja.
"Tujuannya untuk menertawakan. Kami ingin menertawakan setiap ekstrimis. Mereka bisa siapa saja, Muslim, Yahudi, Katolik. Siapa saja bisa menjadi religius, tetapi pikiran yang ekstrimis tidak bisa kami terima,’’kata Leger.
"Di Prancis semua orang memiliki hak untuk menulis, menggambar. Dan jika beberapa orang tidak senang dengan apa yang kita lakukan mereka bisa menuntut kita, sementara kita bisa mempertahankan diri. Itu yang disebut sebagai demokrasi. Anda tidak membuang bom, tetapi Anda membahas, mendebat. Tapi Anda tidak boleh menempuh tindakan kekerasan. Kita harus berdiri dan melawan tekanan dengan yang datang dari kelompok ekstrimis," ungkap Leger.
(aww)