
Koran SINDO
Sindonews.com - Setelah sempat dikritik karena tak kunjung membentuk kabinet baru, kemarin, Presiden Muhammad Mursi resmi mengumumkan dan melantik pemerintahan barunya.
Laporan media setempat melaporkan kabinet yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Hisyam Qandil akan didominasi kalangan teknokrat, dengan setidaknya dua menteri dari pemerintahan sebelumnya dan beberapa kelompok Islam. Qandil mengatakan, kompetensi akan menjadi kriteria utama terkait pengangkatan tersebut.
Dari 18 nama menteri yang disebutkan media pemerintah, dua menteri berasal dari anggota Kebebasan Ikhwanul Muslimin dan Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), yang dipimpin Mursi. Saat berbicara pekan lalu, Qandil mengatakan ingin semua kekuatan politik dan rakyat Mesir mendukung dalam misi sulit ini, yang menyoroti tantangan ekonomi dan sosial.
Pada Rabu waktu setempat, media pemerintah melaporkan pada kabinet baru ini, Menteri Luar Negeri (Menlu) Mohammed Kamal Amr dan Menteri Keuangan (Menkeu) Mumtaz al-Said akan tetap berada di posisi mereka.
Menurut saluran berita Nile News, Qandil telah bertemu para menteri,termasuk Menlu Amr dan Menkeu Mumtaz al- Said, sehari sebelum dirinya resmi mengumumkan formasi kabinet barunya.
Di kabinet baru ini,mantan penguasa militer Mohammed Hussein Tantawi direncanakan akan diangkat menjadi menteri pertahanan. Sementara menurut laporan AFP, asisten menteri dalam negeri untuk keamanan saat ini, Mayor Jenderal (Mayjen) Ahmed Jamal al-Din, diminta menjadi menteri dalam negeri.
“Mengingat keadaan yang telah terjadi di negeri ini pada periode mendatang akan membutuhkan kita semua—pemerintah dan rakyat— untuk bekerja sama untuk menjaga stabilitas,” ungkap Al-Din,seperti dikutip BBC.
Mustafa Musaad, yang bertanggung jawab untuk kebijakan pendidikan selama kampanye pemilihan presiden (pilpres), akan menjadi menteri pendidikan. Sementara Tariq Wafiq, Kepala Komite Perumahan FJP, akan menjadi menteri perumahan. Menteri Wakaf Keagamaan (Wakaf) akan dijabat Osama al-Abd, Presiden Universitas al-Azhar.
Ada pula spekulasi jika ulama ultrakonservatif Salafi,Muhammad Yusri Ibrahim, juga akan diangkat sebagai menteri. Sebelumnya, Presiden Muhammad Mursi sempat dikritik karena setelah menjabat pada Juni lalu, Presiden tak segera memilih PM dan membentuk pemerintahan.
(rik)
Bahas pelanggaran Israel di Al-Aqsa, besok Abbas sambangi Mesir