alexa snippet

Muslim Rohingya: Mereka Kumpulkan Gadis-gadis, yang Disukai Diperkosa

Muslim Rohingya: Mereka Kumpulkan Gadis-gadis, yang Disukai Diperkosa
Para pengungsi Muslim Rohingya di sebuah kamp di Teknaf, Bangladesh. Mereka eksodus dari Rakhine, Myanmar karena ditindas militer. Foto/New York Times/A.M. Ahad/Associated Press
A+ A-
KUTUPALONG - Para pengungsi Muslim Rohingya di Kamp Kutupalong, Bangladesh, menceritakan kengerian yang dilakukan militer Myanmar beberapa bulan lalu. Ketika militer Myanmar menutup jalur Desa Pwint Phyu Chaung, setiap orang memiliki beberapa detik untuk membuat pilihan.

Noor Ankis, 25, semula memilih untuk tetap tinggal di rumahnya. Dia diperintahkan tentara untuk berlutut dan dipukuli, sampai akhirnya seorang tentara membawanya ke sebuah tempat di mana para perempuan, termasuk dirinya diperkosa.

”Mereka mengelompokkan perempuan bersama-sama dan membawa mereka ke satu tempat,” katanya. ”Yang mereka sukai, mereka perkosa. Itu hanya gadis-gadis dan tentara militer, tidak ada orang lain di sana,” ujarnya, seperti dikutip New York Times, semalam (10/1/2017).

Dalam upaya melarikan diri, terbesit perasaan fatalisme di benak Noor Ankis. ”Saya merasa tidak ada gunanya hidup,” katanya.

Wanita Rohingya lainnya, Rashida Begum, 22, memilih untuk terjun ke sungai dengan tiga anaknya. Tapi, dia harus menyaksikan bayi perempuannya tergelincir dari genggamannya.

Sufayat Ullah, 20, juga memilih sungai. Dia tinggal di air selama dua hari dan akhirnya muncul dan mendapati bahwa tentara telah membakar rumahnya. Dia juga mendapati ibu, ayah dan dua saudara menderita sesak napas di sekitar rumah yang ludes.

Mereka yang kini tinggal di kamp Kutupalong, Bangladesh, menjelaskan kekerasan yang telah berlangsung di Myanmar dalam beberapa bulan terakhir ketika pasukan keamanan menjalankan serangan brutal. Kisah-kisah mereka tidak memungkinkan untuk dikonfirmasi secara independen mengingat akses di Rakhine, Myanmar ditutup ketat oleh militer dan pemerintah Myanmar.

Tapi, kisah-kisah mereka senada dengan laporan dari organisasi hak asasi manusia bahwa militer memasuki desa-desa di utara negara bagian Rakhine secara acak, membakar rumah-rumah warga Rohingya dengan peluncur roket, dan melakukan pemerkosaan terhadap perempuan dan anak gadis secara sistematis. Analisis citra satelit oleh Human Rights Watch menunjukkan setidaknya 1.500 rumah rata dengan tanah.

”Ada risiko bahwa kita belum melihat yang terburuk dari ini sebelumnya,” kata Matthew Smith dari kelompok HAM Fortify yang fokus pada kasus-kasus pelanggaran HAM di Asia Tenggara. ”Kami tidak yakin apa yang selanjutkan dilakukan pasukan keamanan negara itu, tapi kami tahu serangan terhadap warga sipil terus terjadi.”

Cerita kengerian juga diungkap para pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Leda, dekat perbatasan dengan Myanmar. Menurut Nazir Ahmed, imam masjid yang melayani warga Rohingya, tentara menyerang desa-desa di seberang sungai Naf—yang memisahkan Myanmar dari Bangladesh—yang begitu dekat, sehingga orang Bangladesh bisa melihat asap api membumbung akibat pembakaran desa-desa di wilayah itu.

Frustrasi

halaman ke-1 dari 2
views: 38.006
loading gif
Top