alexa snippet

Rakyat Kuba Menanti Reformasi Ekonomi Raul Castro

Rakyat Kuba Menanti Reformasi Ekonomi Raul Castro
Aktivitas rakyat Kuba di salah satu sudut kota Havana. FOTO/REUTERS/Enrique de la Osa
A+ A-
HAVANA - Pasca-wafatnya pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro, Sabtu (26/11), tanda tanya besar menyelimuti negara tersebut. Namun, sebagian besar warga optimistis, Raul, adik Castro yang saat ini memimpin Kuba akan lebih bebas mendatangkan “kebebasan” bagi masyarakat.

Masyarakat yakin akan terjadinya reformasi ekonomi. “Fidel Castro menahan (ide Raul) dengan sistem komunisnya. Raul adalah tokoh reformasi Kuba, dia mengubah negaranya. Kematian kakaknya akan memberinya ruang untuk melakukan reformasi ekonomi,” Senior Director Cuba Working Group Alana Tummino, seperti dilansir NBC . Sejak Castro menyerahkan tampuk kekuasaan kepada adiknya, 10 tahun lalu, Raul sudah melakukan sejumlah perubahan.

Reformasi yang tidak pernah bisa dibayangkan akan terjadi saat Castro masih memimpin. Kesepakatan Raul dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 2014 membuat dunia terkejut. Havana dan Washington setuju untuk memulihkan hubungan kerja sama diplomatik. Kedua negara membuka kedutaan besar dan juga membuka jalur penerbangan. Rakyat Kuba larut dalam suka cita menyambut terobosan tersebut. Demikian juga dengan warga Kuba yang berimigrasi ke AS atau negara lain.

Hal itu dipandang sebagai hal positif sehingga warga Kuba tidak lagi terisolasi. Walaupun sudah memimpin pembaruan, Raul dinilai belum melakukan banyak hal untuk rakyat. Kini setelah sang kakak meninggal, Raul diyakini bisa melakukan banyak hal.

“Ekonomi adalah salah satu yang harus segera dibenahi,” imbuh Tummino. Untuk hubungan luar negeri, khususnya dengan AS, Direktur Inisiatif Pertumbuhan Ekonomi Amerika Latin dari Atlantic Council Adrienne Arsht Latin America Center, Jason Marczak, menilai bahwa sepeninggal Fidel, hubungan Kuba-AS akan membaik.

“Ini bisa membuka kesempatan kepada kedua negara untuk melanjutkan relasi yang lebih terbuka,” tandas Marczak kepada Foxnews . Namun, Direktur Institut Studi Kuba-AS di Universitas Miami Jaime Suchlicki mengungkapkan perubahan signifikan di Kuba bakal berjalan lambat. “(Perubahan yang dilakukan Raul) Tidak ada hubungannya dengan Castro. Dia (Raul) tidak melakukan hal signifikan saat Castro masih hidup karena tidak ingin kekuasaannya terancam,” jelas Suchlicki.

Dia juga menegaskan wafatnya Castro bukanlah berakhirnya suatu era di Kuba. “Ketika (pemimpin Korea Utara) Kim Jong-il meninggal, anaknya Kim Jong-un mengambil alih dan tidak ada yang berubah di negara itu,” katanya.



(esn)
dibaca 4.807x
loading gif
Top