alexa snippet

Parlemen Eropa Tuduh Rusia Umbar "Propaganda Perang", Putin Tersinggung

Parlemen Eropa Tuduh Rusia Umbar Propaganda Perang, Putin Tersinggung
Parlemen Uni Eropa saat sesi voting di Strasbourg, Prancis, 25 Oktober 2016 lalu. Foto / REUTERS / Vincent Kessler
A+ A-
MOSKOW - Presiden Rusia, Vladmir Putin, tersinggung dengan tuduhan parlemen Uni Eropa bahwa Rusia melalui medianya mengumbar “propaganda perang”. Putin membalasnya dengan menyebut negara-negara Barat telah mengalami degradasi demokrasi.

Parlemen Uni Eropa dalam laporannya juga menyerukan negara-negara Eropa melawan propaganda Rusia itu. Parlemen Uni Eropa juga mengecam dukungan pasukan Rusia anti-Eropa terhadap kelompok-kelompok ekstrem kanan.

Selain itu, parlemen Uni Eropa juga menuduh media-media Rusia menyebarkan informasi palsu. ”Parlemen Eropa mengungkapkan kritik yang kuat dari upaya Rusia untuk mengganggu proses integrasi Uni Eropa,” bunyi pernyataan poin-poin yang dibacakan perleman Uni Eropa.

”(Ini) disesalkan, dalam hal ini, dukungan pasukan Rusia anti-Uni Eropa di Uni Eropa, khususnya kepada pihak ekstrem kanan, pasukan populis dan gerakan yang menolak nilai-nilai dasar demokrasi liberal,” lanjut pernyataan itu, seperti dikutip Reuters, Kamis (24/11/2016).

Hubungan Rusia dan negara-negara Barat memanas sejak Moskow menganeksasi Crimea yang melepaskan diri dari Ukraina pada 2014. Dalam laporannya, parlemen Uni Eropa menuduh Kremlin mendanai media untuk menyebarkan kebohongan dan mensponsori gerakan Eurosceptic di Eropa Barat yang tumbuh kuat.

Namun, Putin tak terima dengan tuduhan parlemen Uni Eropa. Menurutnya, apa yang dikerjakan media adalah bagian dari gerakam demokrasi. Putin menuduh balik Uni Eropa berupaya membungkam perbedaan pendapat.

”Kami mengamati tertentu, cukup jelas, bagaimana degradasi demokrasi dipahami dalam masyarakat Barat,” kata Putin. ”Dalam hal ini, khususnya di Parlemen Eropa,” katanya lagi.

Sementra itu, Jean-Luc Schaffhauser, yang berbicara untuk  Front Nasional Prancis yang dipimpin Marine Le Pen, menyebut laporan parlemen Uni Eropa sebagai propaganda bohong.

Le Pen telah meraih popularitas dalam jajak pendapat sebelum pemilihan presiden bulan April. Para lawan politiknya menuduh Front Nasional Prancis sebagai “bank Rusia” untuk mendanai kelompok anti-imigrasi, partai anti-Uni Eropa-nya.

Le Pen pada pekan lalu mengatakan bahwa dia akan membentuk trio dengan Putin dan presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk mewujudukan perdamaian dunia.

dibaca 20.814x
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top