alexa snippet

Cerita Memilukan Warga Rohingya soal Kebrutalan Tentara Myanmar

Cerita Memilukan Warga Rohingya soal Kebrutalan Tentara Myanmar
Para warga komunitas Rohinya yang menyusup ke Bangladesh untuk menghindari penganiayaan tentara Myanmar di desa-desa mereka di Rakhine. Foto / Daily Star
A+ A-
DHAKA - Ali Hossain bersama empat anggota keluarganya sedang menunggu bus di daerah Hoyaikong Bazar, Bangladesh, di jalan raya Cox Bazar-Teknaf, tengah hari kemarin. Dia ditemani sang ibu; Jahera Begum, adik; Halima Khatun dan anak kecilnya, Halima.

Keluarga Ali adalah salah satu keluarga dari komunitas Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, sebuah komunitas minoritas yang jadi korban penganiyaan tentara Myanmar dalam operasi militer terbaru Oktober lalu. Keluarga Ali memilih tinggal di sebuah desa di distrik Chakoria Upazila, Bangladesh, untuk menghindari penganiayaan tentara Myanmar.

Ali, 30, mengatakan bahwa dia merupakan salah satu dari 15 warga negara Myanmar yang menyeberangi sungai Naf dengan perahu kecil sebelum fajar dan masuk ke Bangladesh melalui wilayah Lombabeel.

Keluarga Ali berasal dari Kuikkhali, Maungdaw, negara bagian Rakhine, Myanmar. PBB telah menyatakan komunitas Rohingya sebagai salah satu komunitas yang paling teraniaya di dunia.

Moulavi Syed Karim dari wilayah Raimmya Ghona dan Habibullah dari Keyari Para, dua warga Rohingya lainnya juga meninggalkan rumah untuk alasan yang sama, yakni menghindari penganiayaan dari tentara Myanmar.

”Tentara Myanmar membakar rumah-rumah kami dan membunuh saudara-saudara kami,” kata Habibullah. Mereka masuk Bangladesh melalui Jhimongkhali pada hari Jumat, pekan lalu.

Sumber lain dari komunitas Rohingya mengungkap bahwa beberapa warga minoritas Muslim itu ditembak mati saat mencoba menyeberangi sungai yang menandai perbatasan Myanmar dengan Bangladesh.

Menurut laporan AFP, PBB menyatakan bahwa lebih dari 30 ribu orang telah mengungsi akibat kekerasan terbaru ini di Myanmar. Setengah dari data itu mengungsi pada pekan lalu ketika puluhan orang tewas dalam bentrokan dengan militer.

Melarikan diri dari Myanmar dan menyusup ke Bangladesh, bukan masalah mudah bagi komunitas Rohingya. Mereka ingin menghindari penganiyaan di Myanmar, tapi ditolak petugas patroli perairan Bangladesh karena status mereka ilegal.

Para warga Rohingya memilih menyusup ke Bangladesh pada malam hari karena patroli aparat Bangladesh telah ditingkatkan. ”Lebih intens pada malam, lebih ramai di sungai Naf,” kata Sirajul Islam Chowdhury Lalu, anggota Batalyon 2 dari Hoyaikong Union Parishad, Bangladesh.

dibaca 35.485x
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top